Kembali Kepada Gagasan Tentang Sebuah Taman

By    
by Wisnu Pamungkas

Ketika burung-burung bermukim di taman ini,
Aku berangan-angan menjadi orang ramai saja
Yang memotret keindahan itu. Berkemah di situ
Dengan mimpi dan berangan-angan lagi membuat
Sebuah sarang dengan tanganku sendiri untuk
Anak-anak kita. Tapi dimanakah engkau pada
Saat itu Lidida?
Adakah engkau sudah terbang menjadi merpati
Lain yang hinggap dan terbang kembali dari
Antena ke antena (sampai aku letih membidik
Paruhmu di kabel-kabel putih itu, yang melintasi
Pohon-pohon dan rumah adat di sana). Dimanakah
Engkau pada saat itu. Ketika aku hampir lumer
Memonitor layar-layar TV itu.
Radio yang selalu menghidupkan bayangan taman-taman
Lain dari dunia lain yang entah dimana.
(dan orang banyak itu sudah menemukan aku
telah menjadi partikel-partikel kecil dari tuduh
mereka. Mereka lalu memotretku, mengurungku
dalam dada mereka, menjadi potongan-potongan
terakhir dari burung-burung terakhir
yang masih bernyanyi di taman mereka).
Dimanakah engkau pada saat itu?
Aku selalu menggigil bila teringat bahwa
Aku harus sendiri, bersiul-siul sendiri
(di taman itu juga), berharap, tak henti-hentinya
berharap bahwa kau mendengarnya.
Sementara habis sudah sayapku di ruyak-ruyak
Penantian.
Dimanakah engkau pada saat itu Lidia, dimana?

(sekali lagi aku merekam keindahan itu,
dengan pensil, selembar kertas dan asa 200,
di anjungan sebuah taman yang menghadap
ke surga)

ketika burung-burung bermukim di taman itu dan menjadi
orang ramai yang berburu, kuharap engkau tidak kemana-mana
“Hei, sudah bertahun-tahun aku tidak kembali ke taman itu
bernyanyi dan memberi kecupan pada kenangan,
yang memekarkan bunga-bunga


Pontianak, 30 oktober 1996
Post a Comment