Literatur Orang Bahagia

By    
by Wisnu Pamungkas

Kau sudah memberiku perhatian dan perhentian yang kedap
Dan aku menggelinjang bahagia,
Terlontar dari dada ke dada,_ada embun,
Ada kabut yang kupetik_, dengan bungah aku keluar
Dari hutan menenteng sajak stensilan,
Menyeret-nyeret buruan yang bertahun-tahun ingin
Ku tangkap (aku membayangkan ia sudah menjadi singa)
Padahal masih saja angin kecil yang bergerak-gerak
Di ranting pohon, mata kelinci yang lembut dibalik
Belukar, tapi tak biasa kutangkap, sayang.
Ia Cuma puisi, ricik air di kejauhan yang menjelajah
Ingatan. Bukan, bukan. Ia Cuma gerimis yang lirih
Di luar kamar, mengetuk-ngetuk seperti cerita.
(kau sudah memberi terlalu banyak, kekasih)

aku tentu tidak berhutang padamu,_kecuali hidup, mati dan hidup kembali untukmu,
untuk mengendus jejak cintamu, mencoba pulang bila
tersesat di hutanmu dan kembali lagi ke situ,
entahlah, Lidia.
Engkau memberiku perhentian dan perhatian
Yang kedap.
Madu yang kental, kental sekali
(dan tahukah kamu, seekor kumbang hutan
tidak akan pernah terbang sebab ia tahu karena
madu bunga itu ia akan mati)

Pontianak, 22 Oktober 1996
Post a Comment