Melamar Angin

By    
by Wisnu Pamungkas

Tuhan pasti sudah melihatku tertipu
Ketika aku berkunjung ke kuburan itu, dekat sebuah kapel
Lalu aku menyangka udara sudah mati setelah peristiwa pemotretan itu,
Lehernya di cekik dengan pita, aduh, bagaimana menjelaskan
Setitik darah pun aku tak mengerti apalagi menjelaskan derita
Seperti mempelai yang rebah dalam kamar, menukar gerimis
Menjadi kereta, katanya.
Tuhan pasti sudah melihatku,
Ketika aku terbungkuk-bungkuk melamarmu, melamar angin
Yang berhembus setiap saat menjadi sebuah suara
Tuhan pasti sudah mengenalku bahkan jauh sebelum kehidupan
Itu di hembuskan ke tungku pengetahuan yang juga menanak
Dosa-dosa itu

Korek, 15 Agustus 1997
Post a Comment