Stasi dada II

By    
by Wisnu Pamungkas

Ketika aku disini
Dada hanya meloncat-loncat sendiri dari
Ketakutan ke ketakutan, juga orang-orang
Yang tengah bercerita,_
Dada terus bertumpah-tumpah menjadi darah
Yang mengalir, menjadi keping-keping kenangan
Buta yang,_ketika aku di sini,_ waktu dada terbuka,
Membelah seperti kepompong mengais-ngais
Pertanyaan:
“untuk apa keberanian ini kita hambur-hamburkan
di desa?
Untuk apa jelai yang kita petik dan luruh
Di tanah, dada?
_,dada yang menjadi kericuhan,
dada yang bersayap, kejam dan tanpa air mata
untuk apa, dada?

Korek, 5 Maret 1997
Post a Comment