Penderitaan 18 Juni 1995

By    
Mungkin mempertanyakan mengapa cinta harus ada adalah seuatu yang terlalu klise bagi seorang pemikir. Atau mungkin ada lagi yang mempertanyakan (pasti juga kamu meskipun hanya dalam hati), mengapa aku harus ada, dihadirkan hanya untuk menderita, bertemu dan berpisah sebagai suatu nuansa faktualitas?

Mungkin aku tak bisa menjawabnya dengan sempurna, tapi baiklah aku hanya dapat menjelaskan bahwa penderitaan itu harus ada supaya kebahagiaan juga ada.
Karena penderitaan dan kebahagiaan saling mengimplikasikan. Kebahagiaan pasti tidak akan pernah ada dan takkan mungkin dipahami tanpa sebuah penderitaan, seperti kita juga telah mamahami intensitas cinta, kasih, kerinduan, kebencian dan dendam sebagai suatu substansi yang saling berelasi. Masing-masing substansi merupakan realitas kolektif y ang tidak saling mendominasi, maksudnya substansi yang satu tidak menjadi raksasa bagi subtasnsi yang lainnya, tetapi justru menjadi salah satu elemen/unsure dari kebersamaan unit-unit yang jelas dan utuh serta berdikari sebagai substansi.

Jadi jika sang “aku” menderita (aku sebagai salah satu pengkosmos dalam kesemestaan dunia) berarti “aku” tersebut berproses melewati konfrontasi dengan “mereka” sebagai substansi sekaligus pengkosmos yang lain untuk mendapatkan identitas atau pengakuan. Dengan demikian “mereka” memberikan makna kepada “Aku” dan membuat sang “aku” itu berarti (penderitaan memberikan makna dan membuat kebahagiaan itu berarti). Jadi penderitaan memang harus ada untuk meng-adakan jebahagiaan dan kebahagiaan akan memaknai substansi yang lain (termasuk juga penderitaan) sebagai pengkosmos supaya sang “aku” pernah hadir dan memiliki identitas serta kesederajatan kosmos yang independent dan otonom karena adanya suatu korelasi tersebut. Dengan demikian sang “aku” tadi juga menyadari bahwa mereka dapat ada: benar-benar ada dan pernah ada bagi sang “aku” itu tadi.

Bentuk
Mengenai bentuk dari keberadaan elemen/unsure dan unit-unit tersebut sebagai substand dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Yang materil/jasmani/berbadan dalam bentuk suatu benda sebagai bukti konkrit. Misalnya sang “aku” tadi dapat dihadirkan berupa manusia, materi tubuh yang kelihatan dan tubuh itu sebagai wadah dari “aku” yang rohani. Aku yang berupa benda atu tubuh itu merupakan faktualisasi dari aku yang rohani tersebut!
2. Yang rohanih/in materil.
Artinya substansi atau “mereka” sebagai unit-unit yang lain, yang juga sebagai pengkosmossaat atau karena korelasi adalah abestrak sifatnya karena “ia”/mereka/substand tersebut tidak memiliki wujud fana/badaniah. Yang berupa benda atau zat materil, tetapi memiliki eksistensi yang sifatnya spiritual. Misalnya kebahagiaan: Kebahagiaan tidak dapat difaktualisasikan dalam bentuk benda meskipun hanya sebagai pembenaran belaka.

Pertanyaan.
Lalu mengapa aku harus ada dan dihadirkan bagi orang yang tidak pernah ada, untuk mengadakan mereka sebagai suatu faktualitas?
Atau mengapa aku diadakan dan menderita untuk membuat ada orang-orang yang tak pernah ada. Tidakah itu amat sia-sia?