Kepada Sepasang Kekasih yang Mencintai Durian

By    
Oleh: Pay Jarot Sujarwo

Yang terhormat, sepasang kekasih yang sama-sama mencintai durian. Surat ini kukirimkan sebagai perwujudan rasa duka mendalam atas terancam punahnya pohon dan buah durian di pulau ini. Membaca kisah kalian di Koran ini beberapa hari lalu, tiba-tiba saja detak di jantungku terasa melambat dan rasanya untuk beberapa jenak terasa kehilangan detak. Betapa kubayangkan keromantisan tiada tara yang kalian alami saat sama-sama melumat kenyalnya daging durian. Keromantisan yang tak akan pernah dilupakan sepanjang hidup. Keromantisan yang mengalahkan bibir yang saling berpagut, lenguh yang saling berebut. Aku setuju dengan apa yang pernah ditulis Seno dan kubaca kembali dalam kisah tragis kalian, bahwa cinta sepasang kekasih bukanlah seberapa sering mereka bertemu, berciuman, dan bergumul. Tapi bagi kalian, cukuplah bau durian dan kelezatan dagingnya yang menjadikan betapa rindu begitu berharga. Sungguh aku iri dengan keromantisan yang kalian bina.

Tapi demi membaca kisah kalian di Koran ini beberapa hari lalu, betapa aku menjadi cemas dan merasa perlu menuliskan surat ini. Aku jadi ingat dengan buah durian yang menyelamatkan ayah dan ibuku dari pertengkaran hebat. Ya, waktu itu ayah dan ibuku bertengkar. Kami, aku dan adikku tidak terlalu tahu apa masalahnya, karena itu terjadi ketika usia kami masih sangat kecil. Ibuku mengancam akan lari dari rumah, dan ayah, dengan suara yang teramat lantang mengatakan tak akan lagi membelikan beras dan keperluan dapur lainnya. Aku dan adikku menangis begitu keras. Sangat keras. Aku yakin tetangga sebelah rumah mendengar pertengkaran hebat tersebut. Cuma mereka terlalu rikuh untuk ikut campur urusan domestik.

Hingga akhirnya, ketika aku dan adikku tak tau lagi harus berbuat apa selain menangis, seseorang mengetuk pintu depan. Serentak kami semua diam. Tak seorangpun dari kami membuka pintu, tapi karena tak terkunci, yang mengetuk memutuskan untuk membukanya sendiri kemudian langsung masuk ke dalam. Ternyata orang itu adalah paman. Dia membawa tiga buah durian. Melihat durian, aku dan adikku tiba-tiba saja lupa kalau kami sedang menangis. Ayah dan ibuku tiba-tiba saja lupa kalau mereka sedang bertengkar. Ya, kami sekeluarga sangat mencintai durian. Tapi buah berduri itu hanya berjumlah tiga.

“Kalian bagi rata, jangan sampai ada yang saling mendengki.” Kata paman.

Ayah kemudian mengambil pisau dan membuka buah berdaging kenyal tersebut. Yang sebuah diberikannya kepadaku. Yang sebuah buat adikku. Yang sebuah dimakan ayah dan ibuku bersama. Aku masih ingat, betapa bahagianya kami melumat habis buah durian pemberian paman. Dan ayah dan ibu dan pertengkaran yang terjadi, betul-betul mereda pada waktu itu. Malah, mereka saling berbagi. Betapa durian menjadi pahlawan kami, yang membuat cinta benar-benar memiliki makna.

Kepada sepasang kekasih yang sama-sama mencintai durian, membaca kisah kalian begitu menyesakkan dada, dan ketika menuliskan kisah ini, aku tak mampu menahan air mataku untuk pecah dan tumpah. Semenjak pemerintah mengizinkan penebangan pohon durian, entah apa lagi yang akan menyelamatkan keluargaku dari pertengkaran kelak. Bukan hanya pertengkaran keluargaku, bagaimana pula dengan keluarga-keluarga lain yang dipertemukan oleh pohon durian yang ditanam oleh kakek atau nenek moyang mereka. Belum lagi – jika semua pohon durian itu benar-benar habis ditebang – bukan hanya kerinduan dan kisah cinta kalian yang akan terancam tapi cinta orang-orang di daerah ini. Orang-orang akan saling mengumpat sebab setiap musim penghujan tiba rumah mereka dimasuki banjir. Orang-orang akan saling memaki sebab setiap musim kemarau atap-atap rumah terasa dibakar matahari. Orang-orang akan saling curiga, menuduh, dan durian hanya akan meninggalkan cerita yang tak lagi sarat dengan makna cinta.

Kepada sepasang kekasih yang sama-sama mencintai durian, aku ikut berduka, ketika pada saatnya nanti kalian tak lagi bisa memberi makna sebenar-benarnya pada rindu sebab tak ada lagi harum tubuh dan kenyal daging durian. Pemerintah sempat berujar bahwa penebangan pohon-pohon durian tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan kebutuhan kayu Kalimantan. Sungguh, ini alasan yang sangat tidak rasional. Perilaku manusia yang tidak berperikemanusiaan terhadap kayu Kalimantan terus menerus dilakukan, bahkan terorganisir dengan baik. Lalu saat manusia kekurangan kayu, tak berpikir panjang, mereka membabat kayu-kayu durian. Nanti kalau kayu-kayu durian ini benar-benar habis, entah kayu apa lagi yang akan mereka tebang. Begitu terus menerus. Sampailah semua jenis kayu di pulau ini benar-benar habis. Sampailah rumah-rumah akan tenggelam karena banjir dan tanah-tanah akan mengelupas karena kemarau. Dan persoalan kearifan lokal, hanya akan menjadi kalimat penghias di seminar-seminar demi terjaganya pencitraan diri. Sungguh, kekejaman orang-orang di Negara ini sudah teramat keji.

Kepada sepasang kekasih yang sama-sama mencintai durian, sebaiknya kita sama-sama bersiap. Barangkali saja kehancuran negeri ini akan berlangsung secara tiba-tiba. Penebangan pohon-pohon durian itu adalah sebuah pertanda. Dan cinta pelan-pelan akan terkikis hingga pada akhirnya benar-benar tidak ada. Tak ada cinta-tak ada cinta. Aku minta maaf tak lagi mampu menuliskan surat ini, sebab gagal membendung air mata yang terus menerus mengalir. Sebab gagal menahan debar dada yang terus menerus bergemuruh. Semoga saja kedua orang tuaku tak lagi bertengkar dan kalian segera bisa menemukan cara lain untuk saling merindu. Kepada pohon-pohon durian, kalaupun pada saatnya nanti kalian tak bisa tumbuh di bumi khatulistiwa ini, kalian akan terus bereinkarnasi di hati kami. Harum mewangi. Sama sekali tidak seperti kotoran babi, campur terpentin, bawang dan kaus kaki.


Sukadana, 24 November 2009
Post a Comment