Episode Ulang Tahun dan Tato Air*)

By    

Setiap mengingat  hari ulang tahun, aku  menjadi sangat menderita. Terpuruk dalam lubang kesedihan yang tak pernah mampu lagi dibujuk, bahkan dengan berpucuk-pucuk surat cinta.
Aku terluka, terbujur dalam ruangan gelap dengan segengam ganja.  Mengingatmu, hanya melahirkan luka. Melahirkan rasa tolol luar biasa, sejak kita berpisah di pantai itu. Di pantai yang sudah kukutuk menjadi tempat paling pukimak yang pernah kuingat di dunia.


Sinar merkuri menembus kaca. Aku setengah mabok mencari sekaleng susu. Waktu seakan berakhir di situ. Di bangsal 12 yang membuatku selalu tergoda mengenangmu.
Tapi sudahlah. Bekas tato ini terlanjur berdarah. Ada tanda merah maron seperti bekas parutan kelapa. Tapi itu tak seberapa, engkau dulu bilang ia akan menjadi kenang-kenangan terindah kita. Anehnya aku percaya saja semua bualanmu yang nyaris seperti doa. Mulai dari soal tato sampai teknik bercinta nungging-nungging yang tak masuk akal belanda. Busyet! Aku percaya saja, seperti anak kucing kampung yang dibujuk dengan semangkok susu kuda.


Tapi tau tak kau! Setiap mengingat  hari ulang tahun, aku seperti mengingat kuburan. Mengingat tanah merah yang selalu basah diguyur air pancoran. Mengingat luka dengan beribu-ribu bekas jahitan.
“Ini adalah hari ulang tahunku jahanam!”
“....tidak bisakah bicara sopan?!”
“Tidak!”
“Please, aku sedang rapat”.
“Persetan! Kau dulu yang mencekokiku dengan pil KB”.

Hanya orang yang mencintai dia saja yang bisa melihat tato itu. Tato yang bukan diukir dengan tinta dawat, tetapi dari setiap tetes air mata.


(by Wisnu Pamungkas)