Debu Semesta

By    
by A. Alexander Mering
Kawan, seperti juga engkau, aku harus menemukan jalanku, walau sejujurnya aku tidak tahu harus kemana. Tak perlu kau katakan lagi padaku betapa sudah banyak  orang di dunia ini berusaha, tetapi bahkan sampai mati pun ada yang tidak menemukan apa-apa.

Aku bukanlah orang yang putus asa dan ingin lari. Aku hanya ingin
mengatakan padamu bahwa justru ingin berusaha, aku melalui semua ini untuk menemukan keping takdirku sendiri untuk menjadi sempurna.

Kami harus bertemu satu sama lain untuk saling menyempurnakan. Bukan seperti film the one, dimana tokoh utamanya harus saling membunuh supaya energy tidak terbagi untuk banyak orang supaya hidupnya akan menjadi semakin kuat.

Di Galaksi Bimasakti, aku mungkin hanya salah satu keping dari sekian banyak aku yang lain. Mungkin di semesta yang berbeda, aku bukan seorang clandestine.  Barangkali aku hanya seorang tukang cukur, terminator, seorang polisi, seorang biksu, seorang lonte, pemilik hotel, penjinak energy, penjaga cakra, pemindai mimpi, nanomad atau vagabond. Aku bahkan mungkin adalah beberapa orang atau juga bukan orang, yang berbeda-beda. Mungkin saja aku  hanya sepotong kayu kering, seekor anjing kurap, tupai tanah atau bekas cacing tanah. Bahkan mungkin hanya debu bintang, ekor meteor atau cuma arus kosmik yang belum pernah dikenal ilmu pengetahuan.

Lebih parah, mungkin saja aku hanya sebintik noktah, dari energy yang bergerak berputar, membentuk kepingan, membentuk raga, atau apa saja di semesta mana pun aku pernah singgah.
Karena itulah kawan, aku memilih pergi, mengikuti putaran semesta, untuk sampai ke suatu tempat yang bahkan aku tak tahu dimana.