CLANDESTINE LUKA

By    

SMS-MU
16.02.2011. 17.28
Aq merenungkan syg di beranda, memikirkan kenangan qt. sambil digigit nyamuk dan mendengar bunyi katak yang seperti kentut. Aq mau tertawa dgn mu yang.
16.02.2011. 17.29
Aq jg lapar skali  syg tk ad dsini. Mau benar menciumu.aq sgat rindu.
16.02.2011. 17.30
Aq duduk sndri diberanda dan seekor kunang2 trsesat. Ia terbang sndri yang, menembus rumput2 yg basah stlah hjan, dan berkelap-kelip did lam malam yg pekat.
16.02.2011. 17.30
Yang, ap kbr syg. Ap msi skit? Aq skit prut yang. Mau mens, jdi aq hny bs titip hp dan minta smsku dkrimkan. Aq pluk syg erat ya.
16.02.2011. 17.30
Stiap kali aq mencoba hbungi syg, aq slalu mrasa jdi tentara yg sdang perang. Sbab tiap wkt hrs menulis sms dulu saat mlm n mencri snyal bsk utk mengirimny.
19.02.2011. 14.58
Yang. Aq lapar skali. Ud smug tk syg apa2kan, gimanala?syg bgaimana?aq lapar bnar ni yang… mau cpat plg skrg jg bcinta dgn syg.
19.02.2011. 14.58
Yang. Knapa syg tk angkat? Mkin bo2 dbis kali y?? td pgi mau tlp tp hp syg tk aktif.skrg syg tk bs angkat, tp bsk syg cb cek trus y hpny
19.02.2011. 15.21
Yang. Saat mlm tpaksa membygkan untk menciumu
19.02.2011. 15.21
Aq trgatmu, aq trgat ksah qt drantau pnjang, bulan,sungai,perahu,dan asap solar.aq rndu dan sdih yang, cemas jg syg trnyta tgah skit. Aq ingn ada dsampingmu saat ini.
19.02.2011. 15.21
Pelangi trpuruk diblik pohon jati yg jingga ditimpa cahaya senja. Titik2 hjn menghantam putik2 bunga yg mereka hga basah dan gundah.o aq  mencari aromamu disekitar,diantara semilik angin dan bau bwang goring.kutanya kbarmu pda kunag2 perantau yang tersesat di antara ilalang. Kutabur rindu ke segala penjuru hga dua tiga kapal berlabuh.o kuhirup bau di sekitar, msi tk ad aroma keringat dan deodorant yg menyatu dgn kaos oblong. Tentu ada tauke yg merapat, mniru baumu. Btul2 sebuah penipuan yg keji. Tpi utk aromamu yg khas tk mungkin aq salah. Kekasihku lampyridae, aq mencari baumu dgn segenap angan2 dan pngharapan.

Ketika daun bertanya pada hujan, kapan ia mencapai moksa, angin pun menikamnya dengan ranting Sejak saat itulah pucuk-pucuk  berhenti tumbuh, hujan berhenti jatuh, cuaca tak lagi percaya musim, malam tak percaya gelap, siang menolak cahaya dan burung-burung jadi kepompong aneh.

Kubur Kunang-kunang

: Setelah sekian lama
Ada yang terasa nyeri di sebelah dada
Ronce bulan pada sapu tangan
Menggantikan kunang-kunang yang terbang kehilangan peta

: Setelah sekian lama
Potret di dompet telah menjadi kusam
Gambar rama-rama mabuk yang tak menemukan jalan pulang
Benarkah engkau menyimpan air mata?

: Setelah sekian lama
Ranting akhirnya kering
Sulur patah tanpa getah,
tertimbun hening di kubur semesta

  
EPISODE MENUNGGU
24
Malam terlalu hitam untuk dapat dipercaya. Aku hanyalah tamu

Tidak selalu kita bisa bicara
Tanpa pertemuan dan kata-kata


25
Aku menyesal, merindu. Setelah dua minggu menanti, akhirnya  aku putuskan onani.  Aku tahu ini sebuah keputusan tidak sehat dan mungkin juga jahat. Karena aku lelaki yang memiliki standar-standar cukup bermartabat untuk berbahagia. Tapi hari itu, tubuhku sudah hampir meledak. Aorta, Otot,  urat dan organku mendadak telah menjadi 1000 tombol dinamit yang hanya dapat dijinakan olehmu.  Desah dan bayangan tubuh telanjangmu terus merensek ke otak, menerabas akal sehat yang paling bijak.  Kamu tahu?  Aku menangis menahannya, menahan rasa yang akan segera meledak, karena terlalu menginginkanmu ada,  melampaui sebuah perasaan rindu.   Hari itu aku telah terjungkal pada perasaan menyesal luar biasa.  Remuk pada sebuah sudut yang disebut manusia.  

26
Seperti sudah bisa diperkirakan, tak satu pun kabar kuterima darimu hari itu. Aku memang masih menanti, dengan gugup dan dada berdegup, seperti selalu. Tapi kini telah kubunuh sisa harapan dan juga  rindu.  10 SMS yang kukirim kepadamu sore itu,  hampir pasti  cuma sebuah tindakan bodoh. Karena sesungguhnya tak ada lagi yang dapat kuharapkan, karena toch akhirnya semua pesan yang kukirim hanya akan menabrak waktu.

27
Aku pernah menunggu, memahat janji pada waktu, melawan jiwa paling purba yang merindu
Aku pernah menunggu, membayangkan engkau akan muncul dari tikungan itu  
Menghadirkan silhuet  senja, memanjang yang paling sendu
Aku pernah menunggu, mengira cinta seindah kupu-kupu,

Untuk apa lagi aku menunggu?
Jika Janji  tak lebih dari sepotong keju
Aku  pergi  memanjat awan,
Kutinggalkan tanah, dan juga  hukum waktu

28
Jakarta hujan. Aku masih tergolek di katil hotel, lunglai sehabis dihajar mimpi buruk. Perasaanku semakin kelam, antara rindu dan juga keinginan keras untuk melupakanmu.  
Aku mengira, selama ini engkau dapat merasa betapa tersiksanya aku merindukanmu. Menderita karena kita terpisah jauh. Aku menyangka engkau juga rasakan, betapa setiap malam aku terjaga, dan terlelap lagi setelah mengingat matamu yang teduh.
Jakarta masih hujan. Engkau menelpon dari seberang. Memberi tahu kapan akan pulang, mirip penyiar radio yang memberi pengumuman pada pemirsa.  Aku tercekat. Apakah itu engkau atau seorang yang lain? Aku matikan HP. Ternyata sebuah penantian bagimu bukan hal yang berharga. Pergulatanku dalam tiap jengkal waktu dengan nyeri rindu bukanlah apa-apa. Tak sepetong kata maaf  pun terucap.
Sebuah SMS masuk pukul 11.08 WIB: maaf yang..jk memang it perasaan syg.aq tk bs lg menjelaskn rasa sedih pdamu. Yang, aq plu bcra penting tentang hbungan qt.
Baiklah. Aku yang telah keliru. Mengira mata hari yang kulihat adalah matahari yang satu, yang juga menyinarimu. Aku telah salah, karena mengira kita bernafas pada udara yang sama. Mengira rindu yang kurasa adalah rindu yang juga bersarang di dadamu.  Aku sedar sekarang telah tertipu, karena menyangka api cinta yang  menyala di dadaku adalah nyala api cinta yang sama membakarmu.
Jakarta masih hujan. Masih akan hujan, walau pun demikian tidak akan pernah bisa mencuci seluruh lukaku.   Aku  hapus semua SMS gombal lapar yang engkau kirim kepadaku. Ku-delete seluruh puisi cinta taik kucingmu yang pernah memabukanku.
Aku tenggak lagi seloki wiski. Aku berharap alkohol bisa menghilangkan seluruh perasaan sakit. Sementara di luar sana, hujan berpedar-pedar putih memarut Jakarta, memarut hatiku yang luka, yang perihnya telah melampaui sebuah rasa sakit.

Malam