KUNANG-KUNANG AIR MATA II

By    

HARI I
Setelah  berbicara pada ibu, aku pamit dengan berurai air mata. Ibu masih belum menerima keputusanku untuk pergi, tapi tidak ada cara lain lagi yang kutahu untuk mengakhiri semuanya ini. 

Seluruh pandanganku kabur, hatiku benar-benar hancur kehilangan orang-orang yang paling kuncintai selama ini. Bukan saja aku hehilangan dia, tetapi juga aku kehilangan ibu, orang yang kuhormati.

Aku pacu sepedamotorku ke sebuah hotel terdekat. Tidak mungkin aku pulang dalam keadaan begini. Aku tak bisa berhenti menangis. Seluruh ototku tegang, suhu badanku meninggi dan aku telah sekarat.

Di hotel aku SMS ibu. Kukatakan aku telah jatuh sakit, tetapi aku minta ibu berjanji tidak memberi tahu putrinya yang aku menderita begini dan tak bisa berhenti menangis.

Ibu masih membujukku, dia mengingatkan kalau keputusan yang kuambil bukanlah cara terbaik, sangat ekstrim dan drastic. Ia tidak keberatan aku mencintai putrinya, walau kami tidak mungkin bersama. “Bukankah cinta tidak harus saling memiliki,” kata ibu lembut.

Aku semakin nelangsa, seluruh kemampuanku bertahan telah runtuh. Aku tidak mungkin bersama putrinya, tetapi ibu juga tak menginginkan silaturahmi kami terputus.

Tapi apa boleh buat, kini semuanya sudah terlambat. Aku hanyalah seekor kuang-kunang terlarang. Seorang clandestine yang terusir dan tersesat di jalan setapak.
Karena itu tiada lagi lain pilihan, selain kukorbankan diri untuk masa depan putrinya yang lebih baik. 

Aku hanyalah seorang terminator, ibu.  Seorang pengawal yang tak boleh mencampuradukan tugas dengan cinta. Maka kinilah saatnya aku undur diri, karena tugasku telah usai disini.

Aku harus memberi ruang padamu putri, aku harus memberi jalan agar engkau terus tumbuh berkembang, aku harus pergi agar  kebahagian sejatimu datang.

Sadarlah, bahwa sesungguhnya engkau tak memerlukan aku, engkau gadis yang gagah menghadapi dunia. Engkau wanita yang cerdas dan membuat kami bangga. Bahkan ibu berkali-kali memujimu, walau pun kadang kau tak percaya, dan mengira dia tak peduli. Jagalah ibu ya, dan jangan kecewakan dia lagi. Maafkan aku tak bisa lagi mendampingimu, karena hari ini tugasku telah paripurna.  

Aku menangis keras. Aku menangis karena jiwa yang terhiris. Karena kukoyakan hatiku dari keping hatimu. Aku memang tak punya siapa-siapa lagi, tapi setidaknya aku masih memiliki sepapan aspirin dan sebotol wiskhi untuk malam ini.