TIGA MIMPI

By    
Mula-mula aku mengira semuanya sekadar kebetulan. Tapi hari kedua, engkau tiba-tiba muncul lagi dari ketiadaan, berbaring di sampingku. Matamu yang merindu,  menyihirku untuk beberapa saat. Kau tarik tanganku ,  melangkah dalam gerak lamban,  diantara perahu dan pelabuhan,  seperti berlari tapi bukan berlari, hanya bergerak  hampir melayang,  dan seluruh kebahagian memenuhi rongga dadaku seperti yang juga kurasa beberapa tahun silam.

Walau sadar kita sebenarnya kita sudah berpisah, tetapi seperti selalu, aku tak bisa menolakmu. Aku hanya mampu memejamkan mata, menajamkan semua indra,  dan membiarkan sisa-sisa kebahagiaan memenuhi  setiap pori-poriku,  yang pasti  tak mungkin lagi aku dapat di kehidupan nyata.
Saat terjaga, engkau raib bersama kabut. Aku tiba-tiba merasa kosong, terkepung aroma karbol dan botol infuse yang tersambung ke lengan kiriku melalui jarum dan selang.
Sekali lagi air mataku jatuh.
**
Pada hari ketiga. Aku menemukan wajahmu yang teduh, kali ini tanpa kerudung. Kau raih tanganku, aku  ragu-ragu tapi kau telah  menariknya, dan menggenggamnya erat-erat.  Aku terpesona. Kau tak berkata apa-apa, dan memang tak usah berkata apa-apa. Biarkan saja perasaan itu mengalir. Sudah lama kita tak menemukan bahasa untuk menamai cinta. Lagi pula bukankah bahasa manusia  memang tidak pernah benar-benar berhasil mewakili  perasaan kasih sayang?
Biarlah, biarlah saja.  Sebab diam pun adalah bahasa, diam pun punya caranya sendiri untuk mengatakan kebenaran.  Tak harus dengan kata-kata, tak perlu selalu dengan bahasa .
Tiba-tiba saja kaKau menciumku, aku menciumu. Kau memelukku, aku memelukmu. Waktu mendadak berhenti, tapi kita tak berhenti. Bukan seperti dalam mimpi, antara tidur dan terjaga, segelanya terjadi seperti nyata. Aku dapat merasa, seluruh pori-poriku mekar, mencecapmu lapar.
Aku tekejut ketika ada yang menepuk-nepuk lembut pipiku. Ternyata wangi tangan seorang suster, gadis berpenampilan apik.
“Anda bermimpi ya?”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Silau oleh warna putih rumah sakit.  Suster itu tersenyum manis, dia tidak bertanya lagi, hanya membetulkan letak selimut yang menutupi tubuhku yang ngilu dan sakit. Dia masih muda dan cantik, mungkin seusiamu  saat ini.  Tapi dia bukan kamu.
Air mataku menitik.
***
Nisanak. Kita sudah sepakat tidak lagi saling mengingat, supaya langkahmu tidak lagi berat saat menuju semesta kebahagiaan. Kita sudah sepakat,  sejak destinasi terakhir, kita tak lagi bisa seiring sejalan. Atas nama agama, tentu saja aku bukan lagi kekasihmu, bukan lagi kunang-kunang yang pantas engkau ingat untuk menyempurnakan perjalanan. 
 Aku hanya debu kosmic, seorang kucing kurap yang tersesat dalam portal waktu, dan aku masih harus  melanjutkan perjalanan menemukan takdirku.
Karena itu,  atas nama cinta dan juga rasa hormatku yang terdalam, tariklah kembali ketiga mimpi yang engkau kirim tiga hari yang lalu.  Aku tak layak lagi menerimanya, sebagai sebuah hadiah atau pun kutukan.