TEROR DAN KUNANG-KUNANG

By    
Tiga tahun yang dilewatinya bersama kunang-kunang, ternyata tak membuatnya bahagia. Wanita itu ternyata memerlukan terang yang lebih besar untuk  merengkuh surga.

Sementara lelaki malang itu, masih saja  bergumul keras menumpas sisa keinginan dan rindu di dadanya. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk lepaskan diri dari nasib.  Tapi sampai detik ini tak satu pun usahanya itu berjaya.  Lalu dalam keadaan mabok dia membenturkan kepalanya ke tiang jembatan Sungai Kapuas,  mengira dengan cara itu ia bisa melupakan semuanya. 

Tapi apa lacur?  Semakin keras ia berusaha,  semakin erat bayangan wanita itu memeluknya.  Semakin ia mencoba waras memakai logika, semakin tak ada lagi akal sehat untuk melupakannya.  Wanita itu tak saja sudah mencapai bentuk dan suara-suara,  tetapi juga menjelma wewangian dan signal nyaris sempurna yang berdenyar-denyar di dalam kepala, serbuk sihir yang membuatnya kehilangan seluruh tenaga dan kesadaran sebagai manusia.

Wanita itu telah menjadi terror,  menjadi ganja,  menjadi racun sekaligus gula-gula.  Seperti gagak hitam yang mematuk jiwanya siang malam,  tak peduli saat mata terpejam maupun terjaga.
***
Kudengar dia mengeluh. Mungkin sebenarnya bukan mengeluh, tapi mengaduh, menahan sakit. Dari bangsal No 11 tempat aku dirawat, di balik cahaya neon aku bisa melihat lelaki itu bangkit, beringsut ke dinding, mengapai pispot. Tubuhnya berguncang hebat oleh batuk,  lalu meludah.  Sekali lagi ia memaki, seperti ritual yang selalu kudengar sebulan terakhir ini, sejak ia dirawat.

“Cinta pukimak!”