Kitab Semesta Kampung Halaman

By    
Oleh Wisnu Pamungkas

Bertahun-tahun yang lalu, ketika kami duduk di salah satu sudut warung kopi, di Kota Pontianak, untuk sebuah wawancara,  Amrin Zuraidi Rawansyah yang baru saja menamatkan kuliahnya mengatakan, bahwa dia akan pulang Kampung.
“Jika dirimu pulang kampung, siapa yang menjaga kota Pontianak?”

Itu pertanyaan spontan dengan maksud bergurau kala itu. Dan aku sendiri tak ingat  dan tidak terlalu peduli apa jawabannya,  karena tak pernah terpikir sungguh-sungguh bahwa suatu hari kelak pemuda ini benar-benar akan pulang kampung,  nun jauh di pelosok  Kalimantan Barat.

Karena  pada tahun-tahun itu  Amrin adalah sosok penulis muda kota Pontianak yang cukup produktif, selain nama Pay Jarot Sujarwo, Yopi Tiara dan belakangan juga nama L Nano Basuki serta beberapa nama lain yang kerap muncul di koran-koran lokal di Kota Pontianak.  Sekadar catatan ketika itu, gerakan sastra dan kepenulisan di Kalimantan Barat dari era 90-an hingga 2000-an memang tengah mengalami pasang surut yang hampir-hampir semaput.  Kalau pun ada sastrawan muda yang muncul antara kurun waktu itu, sebagian besar telah disibukan oleh pekerjaan rutin sebagai pilihan hidup—mengikuti jejak para seniornya yang—bekerja di instansi ini dan itu. Maklumlah, mencari kerja dan bertahan hidup di negeri yang tak pernah benar-benar siuman dari mabok politik, adalah perkara yang cukup sulit di Kalimantan Barat.

Maka kehadiran Amrin, Pay Jarot Sujarwo,  Yopi tiara dengan buku perdana mereka ‘0 derajat’ di belantika sastra pada masa itu adalah seperti rumah tua yang jendelanya baru dibuka.

Sebagai jurnalis dan peminat sastra, kala itu saya menganggap gerakan ketiga anak muda ini adalah pelatuk baru untuk sebuah ‘meriam social’ bernama sastra di Kalimantan Barat.  Terbukti setelah itu munculah berbagai buku puisi, kumpulan cerpen tipis yang terbit secara indie.  Eh…, Amrin pula menghilang entah kemana. Sekali sekala dia memang ada mengirim kabar melalui SMS (Waktu itu belum ada whatsapp).  Sekali dia SMS mengabarkan kalau dia sudah menjadi guru yang PNS, kemudian memberi tahu akan menikah entah dengan perempuan mana,  setelah itu hilang bertahun-tahun tak menghubungi. Padahal sebelumnya dia pernah menitipkan draff novelnya yang berjudul Senganan, untuk dibaca dan dinilai kelayakannya.  Kemudian tak pernah kontak berbulan-bulan, bertahun-tahun hingga akhirnya 10 tahun kemudian dia  mengirim Whatsapp, potongan cerpen yang tak habis ditulis, menarasikan pertemuannya dengan Pay, dan juga menyelipkan aku untuk mengenang pertemuan kami bertahun-tahun yang lalu di warung kopi.

Hmmm, dia masih mengingat. Apakah karena aku seorang wartawan? Seorang pencinta sastra, atau juga seorang sahabat yang jarang terlihat. Ah, taik kucinglah semua itu,  yang pasti hari ini ditanganku  sudah ada 10 cerpen yang dihimpunnya menjadi sebuah buku. Sambil  bersopan santun dan meminta maaf menganggu, dia memintaku membuat kata penutup untuk bukunya yang berjudul Wanita Penjaga Api. Lo, Kok kata penutup?!

 “Oke, itu karena dulu abang yang membuat kata pengantarnya,  maka untuk cetakan kedua ini, abang harus membuat kata penutupnya,” tulisnya di Whatsapp.

Akaiiii! Aku sempat garuk-garuk kepala ragu. Tapi sebagai matan editor dan pengasuh ruang sastra di salah satu Koran di Kota Pontianak, aku sudah melahap hampir semua cerpen Amrin, termasuk 10 naskah dalam buku ini.  Dan meskipun dalam menulis style Amrin bukanlah yang terbaru dalam dunia sastra, tetapi yang cukup menarik bagiku adalah kepekaan Amrin dalam memotret dan menggarap isu-isu sederhana kampung halaman yang luput dari perhatian penulis lain, bahkan para wartawan di ruang redaksi surat kabar tempat  aku bekerja ketika itu. Dia mengemas nukilan-nukilan kecil kehidupan di kampung, seperti kisah pacar seorang TKW pada cerpen Sonah, atau masalah  Penambang Emas Tanpa Izin  (PETI) yang merusak kampung pada cerpen Pulang dengan cukup apik. Bahkan yang berkaitan dengan mitos kampung dijadikannya background cerita di Cerpen Wanita Penjaga Api hingga menjadi sebuah krido.  Aku jadi terkenang Cerpenis senior Kalimantan Barat, Yusach Ananda yang punya reputasi internasional pada era 60-an hanya karena mengisahkan cerita-cerita kecil di kampung halamannya.

Sepuluh tahun. Ya, sudah sepuluh tahun sudah. Sejak percakapan di warung kopi yang detilnya pun tak bisa kuingat lagi, Amrin yang ternyata benar-benar pulang kampung (meskipun bukan  ke Sanggau, tanah kelahirannya) di Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, ternyata masih mengukuhkan dirinya sebagai cerpenis yang punya citra rasa Kampung yang tidak kampungan.

Meskipun dalam proses kreatifnya Amrin tumbuh di Kampus yang juga tak terhindarkan hidup di lingkungan anak muda kota yang kebanyakan hedonis.  Tapi Amrin dalam karya-karyanya tidak menjadi ikut-ikutan terjebak pada pop style apalagi alai. Ia justru berhasil mengemas tema kehidupan dan cerita cinta anak muda— mulai dari yang sederhana hingga  kasus hamil luar nikah, mulai dari yang di kampus hingga di kampung—dengan cara yang humanis dan sekali sekala memainkan metafora, lengkap dengan percikan-percikan warna lokal, ala ‘kampung halaman keduanya’, yaitu Kota Pontianak.  Dengan cara dan sudut pandangnya  ini, seakan-akan Amrin  berusaha mengabadikan ‘kitab’  Kampung Halaman bathinnya yang tentu belum selesai ditulis.

Karena banyak kita temukan penulis  yang memfaktakan paksa pengalaman fiksinya, tapi Amrin melakukan sebaliknya, bahkan mengawinkan keduanya dengan cara yang cukup menarik di sejumlah karyanya, dan tidak melulu hanya pada 10 cerpen dalam buku ini.
Pendek kata, jika anda membaca buku ini, anda  seperti menemukan pintu, dimensi memori local yang  akan membawa anda melarung ke laci-laci ingatan masa lalu. Ke bangku-bangku sekolah, ke sebuah kamar kost, di kampus, atau pojok desa terpencil di bawah berbukit , dan di mana pun tempat yang masih mungkin anda ingat, yang kesemuanya bisa menjadi dunia yang 'divirtualsastrakan’ oleh Amrin sebagai semesta Kampung Halaman.

Ketapang, 09 Pebruari 2014