Novelis Kalimantan Barat Donasikan Novelnya untuk Orang Rimba

By    
Order Novel disini
JERNANG, buah itu kami namakan. Ada pula yang menamakannya sebagai darah naga. Buah hutan bernilai tinggi yang konon kabarnya mampu mengatasi banyak penyakit. Termasyhurnya[1] buah ini membuat keberadaannya dicari tidak hanya oleh kami, tetapi juga mereka yang ada di luar hutan sana. Buah yang membuat kami bisa berdagang dan bertemu muka-muka baru.  
"Berharga emas Mak, duo sampai tigo juta rupiah perkilonyo tapi di tingkat pencari tentu saja hanya berharga tujuh sampai lapan ratus ribu rupiah!" ujar Usman, waktu kutanya harga jernang ini di luar sana. Awal mendengarnya membuatku terhenyak, apakah ini berkah ataukah kutukan. Terus terang aku khawatir dengan mahalnya Jernang akan membuat orang-orang di luar sana mencari Jernang dan kami pun akan menyingkir makin dalam ke belantara hutan. 

Aku mendengar banyak cerita dimana ditemukannya emas, maka disitulah orang akan berbondong-bondong datang untuk mencarinya. Aku juga mendengar mengenai rusaknya hutan dimana terdapat daerah-daerah tambang. Orang-orang menjadi beringas dan tak lagi melihat bahwa semua itu hanyalah bagian kecil dari yang alam berikan kepada kita dan kita tidak boleh serakah dalam memanfaatkannya. Sejak saat itu, aku mulai khawatir kilaunya harga jernang akan membawa orang-orang dengan sifat buruk seperti itu kemari. Dan yang paling kutakutkan adalah dampaknya bagi anak-anakku. Tapi selama nafasku masih dapat menarik dan menghembus, aku pasti akan membimbing mereka sampai suatu ketika mereka siap untuk memiliki rombongan sendiri. Dan semua berawal ketika kelima orang yang sehari sebelumnya dikabarkan datang hendak menemuiku berjalan mendekat untuk meminta berteduh.

Hari mulai gelap, hujan menderas disertai angin nan menderu merupakan awal dari cerita pedih bagi keluargaku. Tapang mulai menghidupkan pelita yang menerangi tenda kami malam itu. Meski kelebatan hujan hendak menutupi decak langkah, tapi telinga tuaku ini tak bisa dibohongi ketika serombongan orang berjalan mendekat.

"Inka coba kamu lihat siapa yang datang?"



Demikian sepenggal narasi, petikan dari BAB pertama dari Novel karya Paul Tao Widodo yang berjudul Perempuan di Ujung Tembawang.

Sebuah novel lingkungan yang reflektif tentang pergulatan hidup seorang ibu, Suku Anak Dalam (SAD)  yang terjepit di sisa hutan antara hamparan perkebunan kapa sawit di Kabupaten Damasraya, Sumatera Barat.

Buku ini menarik, selain karena penulisnya sendiri belum pernah menginjakan kaki ke tanah Sumatera, juga karena ditulis dari berbagai sudut pandang. Baik dari tokoh  utama cerita, yaitu SAD atau yang kerab juga disebut Orang Rimba, sudut pandang aktivis NGO, koorperasi perkebunan sawit, bahkan juga sudut pandang orang Dayak di Kalimantan Barat sana--yang nasibnya tak jauh berbeda.

Paul Tao Widodo sendiri, adalah penulis novel sejarah Republik Lanfang yang tinggal di Kalimantan Barat.

Saya bangga bisa terlibat dalam proses penulisan, menyediakan data, mengedit hingga mempromosikan novel ini sebagai sebuah gerakan untuk membantu pedidikan anak-anak SAD dampingan  SSS Pundi Sumatera di 3 kabupaten di Sumatera saat ini.

Apalagi niat awal dari penulis buku ini, yang kemudian direstui penerbitnya yaitu TOP Indonesia, bahwa sebagian dari penjualan buku setebal 500 hlm ini kelak akan didonasikan untuk itu.

Bagi yang ingin ikut mendonasi dan memesan novel silahkan pesan di link berikut ini.

Copyright © Alexander Mering
Post a Comment