Turuk Kunang-kunang

By    


Bagaimana harus kukayuh perahu,
jika sungai-sungaimu tak lagi berkelok ke hulu,
dan ikan-ikan telah memisahkan diri dari lubuk
karena mimpi buruk yang menyisakan ngilu

Bagaimana harus kukayuh perahu,
jika pohon-pohon sudah rebah ke tanah
basah oleh  air mata ibu, saat anak-anak tersesat mencari para ayah
yang punah ditangkap para perompak dari seberang laut biru

Bagaimana harus kukayuh perahu,
jika tahun-tahun  penantianmu telah kau jadikan manik-manik,
bajou-nya yang ditaburkan ke udara bekerdap sepanjang malam
pertanda sikerei telah pergi meninggalkan Uma
membiarkan anak-anak kesurupan di rumah papan
pemberian seorang menteri negara

Bagaimana harus kukayuh perahu,
jika sagu-sagu telah menggantikan nasi,
yang digiring ke dalam piring
oleh Orde Baru dan derap sepatu serdadu

Nah, terbanglah kau kailaba,
carilah makan di restoran,
dan belajarlah di Lemhanas untuk menjadi garuda,
pakai juga batik Jogja atau Pekalongan,
agar kau tak mengalami nasib Sultan Hamid
dari tanah sakit bumi Kalimantan

Bagaimana harus kukayuh perahu,
setelah cinta menjadi petaka, antara anak, ayah dan ibu,
di republik yang masih menyimpan syahwat khianat
para amtenar, mandor-mandor dan teror

O, bagaimana harus kukayuh lagi ini perahu,
melaju tanpa arah dan alamat, sudah lama simagere-ku tersesat
di antara heboh iklan pariwisata dan rapat senat

Kukayuh juga ini perahu,
walau pompong telah menjelma menjadi kereta,
dan sayap kunang-kunang menjadi kapal terbang
yang mengirim roh-roh nenek moyang
pulang ke tanah perburuan kekal tersunyi didunia

Mentawai, 25 Juni 2016

*Turuk (bahasa Mentawai) = tarian yang dilakukan saat upacara pemanggilan roh oleh sikerei

Copyright © Alexander Mering
Post a Comment