Keputusan untuk Memberi Suvenir!

By    
by Wisnu Pamungkas

Aku rindu Lidia, seperti ketika aku
menjadi angin—menjadi kabut dan keping-keping cahaya,
menguakan jendela dan dada yang lahir dan mati, dulu
walaupun burung-burung sudah terbang terlalu siang,
aku rindu lidia—menjadi tubuh-tubuh yang menutup
dan membuka, mengalirkan butir-butir kasih dan air mata,
Aku Rindu Lidia,
seperti memetik bunga-bunga gerimis di kota,
membuatnya menjadi supenir, menjadi senja atau menjadi
apa saja yang pernah kujanjikan kepadamu. aku rindu
lidia, melihat jarak yang meleleh di matamu seperti dulu
dan seperti apa yang pernah ku temukan dalam setiap
kenangan bersamamu
Aku rindu Lidia,
seperti ketika aku belajar menjadi beling—menjadi kaca
dan luka yang akan mengalirkan cerita ini ke tubuhmu,
kepada pipimu yang merona sore itu, tapi engkau
dimana cintaku?
Aku rindu Lidia,
seperti ketika aku tengah menjadi binasa,_
menjadi kereta malam dan hantu
yang menggugat keheningan dan kesetiaan dirinya sendiri
waktu itu,_dan aku rindu sekali padmu;
bagai pipa yang mengetuk-ngetuk mimpi pada gemericik
air di kamar mandi itu, pada gedebuk angka
yang melorot ke lantai dari kalender tempel di dinding
kamarku,

Aku rindu Lidia,
Terkaing-kaing di pasung takdir dan waktu


Baning, 22 Juli 1997
Post a Comment