Chief Seattle The Earth does not belong to man; Man belongs to the Earth

Travel

Sastra

Story

Latest Release

Ilustrasi saja
By Wisnu Pamungkas

 Pukul tiga dinihari ayah terjaga. Tiba-tiba dia menemukan dirinya sudah tak lagi memiliki negara. Tapi bukan ayah namanya kalau dia menyerah begitu saja. Ayah bergegas menghidupkan computer, mengambil segenggam kunang-kunang dan menaburkannya ke udara.

“Aku ingin berkebun cahaya,” tulis ayah singkat di akun twitter-nya.

Jakarta, 19 Juni 2016


*Sajak dipetik dari buku: Seringai Kunang-kunang
Copyright © Alexander Mering


Di salah satu bukit gersang di Desa Meurumba, Sumba Timur  tetap bisa tumbuh pohon yang hijau. Photo by Mering


By Wisnu Pamungkas

Kalau saja aku terlahir kembali ke dunia,
aku akan memilih lahir di Sumba,
di padang hijau paling rumput,
biru paling langit  yang memelihara kuda-kuda

Kalau saja aku terlahir kembali ke dunia,
aku akan memilih menjadi kunang-kunang saja,
menggelantang bersama bintang-bintang,
merapal hamayang untuk mengembalakan cahaya
bulan dari savanna ke savana

Kalau saja aku terlahir kembali ke dunia,
biarlah aku menjadi penjaga gunung,
batu-batu keranda dan gua-gua,
yang menggembalakan kerbau jantan dari senja ke senja

Kalau saja aku terlahir kembali ke dunia,
aku akan memilih lahir di Sumba

Meurumba, 23 April 2016
Copyright © Alexander Mering
Bumbung atap rumah warga Baduy Luar di Kanekes. Photo Alexander Merinng

By Wisnu Pamungkas

Kalau bukan karena bulan,
sudah lama kubekuk pungguk

kuterbangkan juga sepasukan belalang,
dengan benang dan jarum sepucuk

Tapi hidup macam apakah yang akan kita jalani
tanpa rindu terucap, bahkan surat sepucuk?

Maka malam meminta kepada gelap,
menyempurnakan setiap cahaya

Jagad  yang diperebutkan
sejak raja Pajaran masih berdiri tegap

Dan para hulu balang dilarang pulang,
terus melarung di sungai kunang-kunang
menuju gaib bintang yang selalu berkerdip di hutan dadap

Kanekes, adalah pusar
kepada akar yang menjulur dari pucuk

Tapi seperti pungguk,
aku memang ditakdirkan sesunguk

Juga sebab bulan telah kembung,
setelah kau melemparkan picung* ke dalam jarog**

Akan kumohon lagi kepada Puun merapal mantra
mengobati dirimu dan garuda tua yang sedang mabuk


Desa Kanekes, 30 Mei 2016
 


* Picung (bahasa Sunda) di beberapa tempat di nusantara disebut juga buah kepayang  atau keluak. Nama latinya adalah Pangium edule  Reinw. ex Blumesuku Achariaceae, dulu dimasukkan dalam FlacourtiaceaePemeo lama mengatakan mereka yang sedang kamasmaran bak orang yang sedang mabuk kepayang

** Jarog adalah tas dari anyaman kulit kayu, khas Masyarakat Baduy

Copyright © Alexander Mering
Tentang Photo ini sila klik disini
by Wisnu Pamungkas

Kalau ini Desember terakhir,
maka ayah harus menulis sajak
tentang sisa Tembawang,
kepak Enggang dan kunang-kunang
kubur-kubur leluhur yang hancur
dirudapaksa para perompak


Desember 2015

Copyright © Alexander Mering
Suatu senja di Selat Karimata. Photo by Alexander Mering
By Winu Pamungkas

Aku sendiri saja,
saat perahu menjauh dan debur ombak berkecipak

Aku sendiri saja,
di bibir waktu, saat matahari turun ke samudra
mengubur derita kunang-kunang senja

Aku sendiri saja, 
kecuali angin yang berdesau jauh di pulau
dan seekor camar yang melintas di jendela

Aku sendiri saja,
mengingat-ingat engkau dalam risau
sepenggal dongeng cinta jaman purba
menahan rindu paling hantu
Suluh yang tak pernah jauh

Aku sendiri saja,
menatap langit yang selalu jingga
di selat keramat tempat  berkayuh
cinta menuju gua-gua


Selat Karimata, 21 Juli 2014
Copyright © Alexander Mering
Ilustrations
by Wisnu Pamungkas

Maka pergilah ayah,
menerbangkan burung ke ranting pohon
setelah bertahun-tahun mereka terpisah
oleh surat dan peta, stempel petinggi negara
yang mencekik leher rakyat

Maka pergilah ibu, menangisi bayi-bayi
yang mati setiap hari, dituba pestisida dan kabut asap,
ketika batu-batu nisannya menjelma palma
dan cerobong baja untuk memuliakan para keturunan ular beludak

Maka pergilah anak-anak, memesan mainan
mitos-mitos tentang ruang dan surat utang
warisan republik kacang yang digadai sampai ke liang lahat

Copyright © Alexander Mering
ilustrasi
By Wisnu Pamungkas

Aku tetaplah pungguk yang sama
walau purnama telah menjelma Sinbad,
perahunya tersesat di negeri dongeng
melarung sepanjang segala abad

Aku tetaplah pungguk di dahan picung
yang sesunguk karena mendung, meraung-raung
menyanyikan lagu dangdut paling murung
karena rindu yang tak menemukan obat

Tetapi mungkin cinta memang tak harus dikatakan,
supaya bulan tak ditelan almanak,
dan mitos-mitos bisa dikisahkan ulang
sebelum awan menyihirku menjadi pipit

Tetapi izinkanlah aku menatapmu di dalam hujan
seperti Rahwana dan Shinta yang tak pernah berkelindan
Jadi biar saja aku yang merasa, 
sedangkan dirimu tetaplah sempurna
menjadi bulan di atas jagad

Pancoran, 19 Mei 2016
Copyright © Alexander Mering
By Wisnu Pamungkas

Tak sabar kutunggu Sabtu
untuk mengepakan sayap
mengapung dalam semesta kosong,
selain kau dan aku

Tak sabar kutunggu Sabtu
separuh dari rakit yang telah kutarik dari hilir ke hulu
supaya waktu berhenti menyiram bunga
dan hanya mengatakan cinta pada rama-rama

Tak sabar kutunggu Sabtu
sebelum senyumu terhapus hujan,
meninggalkan rintik-rintik ngilu

Jakarta, 13 Mei 2016
Copyright © Alexander Mering
Langit dan bumi Sumba Timur pada bulan April 2016- Photo by Mering
By Wisnu Pamungkas

Sudah seribu tahun, sudah seribu tahun lamanya,
ayah mengembara, menyeret-nyeret peti matinya sendiri berkeliling semesta
(Ayah menembus lukisan padang rumput, ngarai batu kapur di bawah senja)

Konon ayah pergi menunggang angin, diiringi hamyang
dan sisa bintang, gemuruh tetabuh dan gendang duka,

Ketika batu kubur para leluhur tertutup taikabala
upacara pun dimulai, takdir membuka pintu,
tempat ayah bertemu ibu dan para wunang,
tapi ayah memilih pergi,
terus-menerus menyeret kerandanya sendiri
dengan perahu dari desa ke desa yang sunyi

Sudah seribu tahun ibu marapu dalam syair bisu
menanti ayah yang tak kungjung kembali

:mungkin mahamayang pun tahu,  
kalau sesungguhnya ibu masih mencintai ayah

Sudah seribu tahun, sudah seribu tahun ayah mengembara,
menyeret-nyeret sebuah kerandanya, menulis sajak lara
di antara mitos keramat dan jimat-jimat Sumba

Mauramba, 24 April 2015
Copyright © Alexander Mering