21 Des 2011

MAKAN MALAM AYAH

by Wisnu Pamungkas

Ayah baru saja menyelesaikan makan malam
Masih tersisa seperempat bulan di meja makan
Ketika ibu menghidangkan secangkir air hujan
Dan membujuk sore menemani ayah membaca

Syukurlah Ayah dan Ibu saling mengerti, setidaknya utuk hari ini,
sebelum besok mereka saling membacok

Ibu pura-pura lupa menyiapkan sendok
Ketika ayah melahap kerat bulan berikutnya

Sedangan ibu terlalu malu untuk meminta jatah
diam-diam dia menyiapkan pisau, membayangkan kelamin ayah
Berusaha menahan hasrat paling purba sebelum berangkat gerilia

Ibu menempa garpu menjadi peluru,
Merajut selendang jadi kelewang
Setiap malam ibu mengokang ranjang ayah
Mengaduk Mesiu menjadi susu
Anak-anak lahir dari bibir dan botol bir
Tapi Ibu tetap enggan meminta jatah
Membiarkan sisa bulan menggelinding ke dinding
Sampai biasnya terpuruk ke tempat sampah

Tapi itulah awal mulanya Ayah selalu menggebu-gebu
Menyesah ibu dengan lagu tanah airku,
Membaca teks proklamasi di tapal batas rumah
Dan inilah awalnya Ibu selalu malu-malu
Setiap kali dia teringat belum menunaikan sumpah
Ibu lantas membeli kondom untuk merakit bom
anak-anak mereka sibuk mengunyah bangku sekolah
Ayah pula merasa gagal jadi pramuka,
Ketika ibu sibuk ingin menjadi tentara

Noyan, 2 Desember 2011
24 Nov 2011

JAKARTA BUKAN TANAH AIR BETA

by Wisnu Pamungkas

Seorang Menteri membaca puisi
Tentang tanah air yang  basi
Tentang tanah tumpah air mani
Begitulah cara Jakarta menciptakan mitos tentang negara
Tentang kabinet yang kebelet menggelar pesta
ayah melengos dari  balik jendela pesawat garuda
ibu membakar tv sebelum menuliskan lagi surat cinta
memandikan anak-anak dengan iklan buah dada

Jakarta menciptakan mitos-mitos kebangsaan
Menipu orang-orang kampung yang sedang bingung
menjejalkan sejarah tentang serdadu yang gagah perkasa

Jakarta menciptakan mitos tentang apa saja
Melahirkan para penyamun dan kembang gula
Ayah mengirim SMS ke pada seorang kolega
 “Jakarta bukan tanah air beta!”

Jakarta, 23 November 2011


DI SOFIA TAK KUTEMUKAN AYAH

                                    :untuk wisnu pamungkas
 
aku mencari ayah di sofia, kota tua dengan berupa-rupa sejarah
tapi tak ketemu
aku pergi ke terminal, toleh kiri toleh kanan, tak ada ayah
kutanya seorang perempuan balkan, “apakah kau melihat ayah?”
perempuan itu geleng-geleng kepala, “tak ada” katanya,
malah dia menengokkan belah dadanya.
kupanjangkan leherku demi melihat jauh ke dalam,
siapa tau saja ayah terjepit di celah dada itu
tapi tak ketemu
 
aku mencari ayah di sofia, kota tua dengan berupa-rupa sejarah
tapi tak ketemu
aku masuk ke dalam gereja, siapa tau saja ayah sedang berkelahi dengan tuhan
aku tunggu di tepi jumat agung, siapa tau saja ayah sedang lenggang kangkung
aku tunggu tuhan lengah, siapa tau saja ayah lepas dari fatwa-nya
“mau membakar lilin dan berdoa?” tanya seorang perempuan tua kepadaku
“tidak, aku sedang berwisata dalam gereja, sekaligus mencari ayah” kataku
lalu kutanya perempuan tua itu, apakah dia melihat ayah
perempuan tua itu geleng-geleng kepala, “tak ada” katanya
perempuan tua itu memberiku lilin untuk dibakar. aku memberinya koin
siapa tau saja di antara lilin dan koin ada ayah
tapi tak ketemu
 
aku mencari ayah di sofia, kota tua dengan berupa-rupa sejarah
tapi tak ketemu
aku pergi di depan kantor presiden, bawa kamera, untuk jaga-jaga
kalau-kalau kulihat ayah, mau kufoto. mungkin ayah sedang rapat dengan presiden
mau membebaskan negara dari cengkraman negara. aku tunggu lama.
banyak orang lalu lalang, tapi tak ada ayah.
aku teriak, “apakah kalian melihat ayaaaaaaahhhhhh?”
orang-orang geleng-geleng kepala, “tak ada” kata mereka
kepalaku berputar-putar mencari ayah
tapi tak ketemu
 
aku mencari ayah di sofia, kota tua dengan berupa-rupa sejarah
tapi tak ketemu
aku masuk museum demi museum
sambil berharap berpapasan dengan ayah yang seorang diri menjelajah dari sejarah ke sejarah
tapi harapanku kosong belaka. ayah tak ada
aku tanya penjaga museum sebelum dia tutup pintu karna mau pulang
“apakah kau lihat ayah?”
penjaga museum geleng-geleng kepala. “tak ada” katanya
aku tetap mencarinya
tapi tak ketemu
 
aku mencari ayah di sofia, tapi tak ketemu
di dalam mitos-mitos juga tak ada
di balik papan-papan iklan juga tak ada
di antara gerimis juga tak ada
kemana ayah kemana ayah kemana ayah
 
“mungkin ayah belum lahir
masih berada dalam kandungan perempuan yang juga belum lahir
atau mungkin ayah akan dilahirkan anakmu”
kata seorang gila di sofia. dia baru saja minta rokok kepadaku
aku bilang, aku akan kasi rokok, kalau kau kasi tau dimana ayah.
lalu orang gila itu bilang ayah belum lahir
 
lalu tiba-tiba saja aku percaya dengan orang gila itu
di sofia, mungkin ayah memang belum lahir.
makanya banyak orang bersetubuh dimana-mana
supaya mereka bisa melahirkan ayah
 
“tapi bisa jadi ayah ada di google”
orang gila itu minta rokok lagi
aku tanya lagi dimana ayah, baru memberi dia rokok
lalu orang gila itu bilang ayah ada di internet
 
lalu tiba-tiba saja aku percaya dengan orang gila itu
lalu aku mengetuk pintu rumah google
malah ketemu sajak-sajak kawan lama yang sangat kurindu
ah, ternyata ayah bersuruk di sana
di balik rerimbun kata dalam sajak-sajak itu
 
“dasar, pantas kucari-cari tak ketemu.
ayo kembalikan ayah kepadaku
kalau kau tidak mau kembalikan
tuliskan saja yang baru, lalu kurung ayah ke dalam google
biar kapan-kapan aku tak susah mencarinya”  kataku
 
sofia, april 2010
16 Jul 2011

Buaya Pontianak, Mejeng di Sarawak

Buaya  di Crocodile Farm Jong melakukan atraksi  saat makan siang. Lompatannya memberi sebuah sensasi bagi para turis  haus ketegangan. FOTO A. Alexander Mering 
Catatan Lawatan Pariwisata ke Sarawak (1)

Oleh: A. Alexander Mering

Jika buaya di Sungai Mempawah  atau Sungai Kapuas yang membelah Kalimantan Barat hampir punah karena diburu dan sebagian ‘dipecundangi’ pawang, tidak demikian halnya dengan keluarga reptilia itu di Crododile Farm Jong, Sarawak Malaysia.
Buaya-buaya itu justru dipelihara dan dilatih menari guna mengorek kocek para turis yang datang ke sana. Termasuk saya yang diundang oleh Tourism Board Sarawak Malaysia akhir bulan lepas. 
Tau ndak pak, buaya itam, paling depan tu buaye kite dari Pontianak!” Kata saya agak jengkel kepada keluaga Tionghoa yang terkagum-kagum memandang buaya sebesar perahu itu berbaring diam.
Pemilik penangkaran memang memasang sebuah papan asal usul buaya  tersebut di dalam pagar. Ia diletakan paling depan, di lorong masuk pertama penangkaran yang menampung lebih dari 1000 buaya.
Lalu aku minta Guide kami, Matthew bercerita. Dia adalah orang Iban yang ramah, mengoceh dengan senang hati dalam bahasa Inggris campur Melayu yang lucu di telinga.
Lebih dari 30 tahun silam, Kian Yong Sen, penyayang binatang dan konservasionis bertemu seorang Indonesia yang menjual buaya muara muda (crocodlylus porosus). Tanpa banyak cingcongYong langsung memborong 6 ekor reptil itu untuk koleksinya. Dia sendiri sudah banyak piaraan, mulai dari kambing hingga ayam dan hewan lainnya.

Rupanya setelah memperoleh 6 bayi buaya pertama tahun 1963, Yong makin tertarik pada reptil. Dia pun memutuskan membudidayakan mereka. Keputusannya dibuat lebih mudah karena Marvin dan Johnson, anaknya juga penggemar satwa liar seperti dirinya. Sejak saat itu hobi Yong sekeluarga kepada reptile ini  dikenal di seantero Sarawak.

Pada tahun 1964 Yong
membeli 19 bayi buaya lain.   Dengan demikian koleksi Yong menjadi 25. Semua reptil disimpan dalam kolam sekitar 1 hektar, milik keluarga di Jalan Chawan di Kuching.

Tahun 1979, keluarga Yong  memperoleh  tanah dua hektar setengah di Siburan, sekitar 18 km dari Kuching. Tapi  masih dirasa terlalu kecil untuk pembibitan. Selama periode ini, ratusan telur diletakkan tapi sayangnya tidak satupun  yang menetas.
Yong mengunjungi desa-desa di sekitar, untuk melakukan studi lebih lanjut tentang kebiasaan peternakan buaya.  Tahun 1981 Yong membuat terobosan. Pada 30 Mei 1981 bayi buaya pertama mereka lahir dari 20 telur. Sementara itu, Johnson terus menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk penelitian tentang kebiasaan para buaya dipenangkarannya.

Setelah bertahun-tahun trial and error, Johnson akhirnya merancang inkubatornya sendiri berdasarkan data yang ia dikumpulkan
. Tahun 1983 inkubatornya pertamanya berhasil dibuat walau masih kasar dari bahan kayu lapis.  

Pada tahun 1998, Crocodile Farm Jong pindah
ke tanah 25 hektar. Saat itu telah lebih dari 500 buaya berkembang biak dalam kolam besar mereka. Tempat itu  adalah penangkaran pertama dan peternakan buaya terbesar di Malaysia.  Yong berharap peternakannya dapat memainkan peran utama dalam konservasi spesies buaya.

Wajar saja kalau saat ini mereka tidak memiliki peternakan buaya tertua di Malaysia tetapi juga salah satu yang terbesar dan memiliki koleksi ribuan keturunan dinosaurus tersebut di penangkaran.

Crocodile Farm Jong dikelilingi hutan
alam dimana kebanyakan hewan hidup bebas. Sebuah pemandangan yang tidak saja menggoda para turis, tetapi juga fotografer yang menyukai konsep nature .

Di bangunan utama rumah pengunjung  dapat melihat fosil rahang buaya raksasa yang bernama Bujang Senang. Di Sarawak  Bujang Senang  bukan cuma sejarah, tetapi juga legenda yang mendirikan bulu roma. Kalau di Mempawah kita  bisa mendengar kisah buaya kuning yang kerap nongol di Muara. 
Konon  Bujang Senang adalah jelmaan seorang jagoan Iban yang dikutuk menjadi buaya. Bujang Senang juga balik bersumpah akan membunuh semua keturunan yang membunuhnya.  Buaya raksasa ini dituduh telah membunuh lebih dari 100 penduduk desa sekitar Sri Aman dan Sungai Batang Lupar. Banyak yang percaya Bujang Senang masih hidup hingga sekarang, ada pun yang dipajang dimusium hanyalah replika.  Para ahli mencatat ada 21 spesies buaya yang tersebar di perairan dunia.  Mereka dikelompokan ke dalam tiga keluarga yaitu, Alligatoride, Crocidildae dan Gavialidae. Nah Bujang senang rupanya adalah jenis Crocodylus porosus.  
Saya berhenti agak lama di depan rahang reptile raksasa itu, karena dalam tabung kaca pengaman fosil tersebut berserakan banyak uang rupiah pecahan seribu dan 10 ribuan bersama ringgit dan mata uang lainnya. “Wahlah, ada orang Indonesia yang mencari hajat ke tempat ini rupanya..he..he…”.
Mengapa Kalbar yang memiliki sungai terpanjang di Indonesia, memiliki Danau Sentarum yang luas, mempunyai ribuan mitos tentang buaya, punya dinas pariwisata juga, tapi tak bisa membuat wisata buaya?  Sebelum pulang aku menoleh sekali lagi ke kolam, di dalam sana mata buaya mengancam dingin, dengan gigi runcing tajam.  Ekornya  masih memukul-mukul air, menggodaku sekali lagi menghunus kamera. Klik, klik, klik!
Jum pulang, buaya darat Pontianak,”.
“Sialan lu….,” kata ku sambil menonjok Matthew. Dia ngacir berusaha mengelak sambil ketawa ngakak. (bersambung) 

Andai Saja Ritchie Bisa Bicara

(Catatan Lawatan Pariwisata ke Sarawak)

Oleh: A. Alexander Mering

Andai saja Ritchie bisa bicara, saya ingin sekali mengundangnya ke Pontianak. Mengajaknya bertemu beberpa pejabat dan penguasa yang kabupatennya masih ada hutan—kampung halaman Ritchie—sebelum ia diboyog seorang wartawan, puluhan tahun silam ke Sarawak, Malaysia.
17 Jun 2011

Sajak Sayap Kunang-kunang

By Wisnu pamungkas

Pada mulanya hanyalah sepasang hati, suatu malam ditumbuhi sayap, 
Mengepak diantara  kerdap bintang dan bias gelap
Lalu mereka menamainya rindu, tajamnya menerabas dada beku
Tapi sayap tak menemukan apa-apa, hanya kunang-kunang luka yang tersesat

Pada mulanya cuma Hawa, yang menyeret dia ke sebuah tempat
Menjamunya dengan sekeranjang Khuldi, dan bertungku-tungku api syahwat
Karena terlalu mabok dia percaya saja manusia, 
Percaya juga pada rencana dan semua akal sehat

Pada mulanya adalah senja, pantai yang memberinya janji
Lokan,  pasir batu dan ombak berkecipak
Maka tabahlah dia mengembara, walau tiada lagi cahaya dan sayap
Diingat-ingatnya kembali sebuah peta, sebuah nama di pantai yang sama,
Ketika cinta pamit menukik ke liang lahat

Sarang Kunang-kunang,  17 Juni 2011
 
© Copyright 2010-2011 Alexander Mering All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.