Chief Seattle The Earth does not belong to man; Man belongs to the Earth

Travel

Sastra

Story

Latest Release


Ilustrasi


by Wisnu Pamungkas

Saat aku menanti engkau,
yang hadir adalah para penari
yang tiba-tiba muncul dari balik gerimis,
seperti trik sulap lama di panggung pasar malam
yang selalu membuat kita tergoda untuk menjadi biduan

Saat aku menanti engkau, yang muncul adalah kembang,
tiba-tiba memenuhi jambangan kosong di atas meja,
masih seperti trik sulap lama yang sudah tak pernah kita mainkan

Saat menanti engkau, yang muncul adalah purnama, hadir tiba-tiba di ranting tua
menjelma cahaya sihir yang melahirkan perasaan rindu seekor pungguk yang begitu mabuk hingga tak ingat lagi bagaimana membujuk rembulan

Saat menanti engkau, aku tersesat dalam malam pekat yang tak pernah memberiku lentera,
atau sekadar kerdap cahaya yang menuntunku pulang


Jakarta, 10 Juli 2017
Copyright © Alexander Mering


By Wisnu Pamungkas

Aku hanya ingin berbahagia
dengan cara yang sederhana,
walau hanya mengingat lambaian ujung kerudung hitammu
yang timbul tenggelam di dalam group WhatsApp

Aku hanya ingin berbahagia
dengan cara yang sederhana,
duduk di kursi peron sebuah stasiun,
membayangkan tangan kita saling menggengam,
meski tak satupun ada kata-kata terucap

Aku hanya ingin berbahagia,
dengan cara yang sederhana,
mendengar namamu disebutkan, pun
hatiku bergetar ketika menuliskannya
menjadi sajak cinta dan sepucuk surat

Aku hanya ingin merindukanmu
tanpa perasaan piatu,
sunyi sendiri di liang lahat


Pontianak, 1 Juli 2017
Copyright © Alexander Mering

by Wisnu Pamungkas
 
Sejak hari itu, kubiarkan saja cinta menjadi kaca

tentu mudah retak atau pecah tiba-tiba

aku merindukan kamu, tapi kamu tak ada

Jadi biarlah kututup saja pintu,
disegel dengan materai 6000, agar sepi juga bisa segera menyempurnakan ngilu

Pontianak, 30 Juni 2017

Copyright © Alexander Mering

Ilustrasi

By Wisnu Pamungkas

menyesalah dia karena pernah memintal dawai
yang pernah diikatkannya pada tirai hujan
ketika musim melemparnya ke hutan
menerima kembali takdirnya yang adalah kosong

maka ditanggalkannya jua sayap
sebab angin selalu membujuknya terbang
berdua menjelajah nyala semesta yang gelap
tapi ia bukan juga sesiapa selain hanya ketiadaan

maka berdarahlah lagi luka
saat hampa menjelma kepompong      
mengirim rindunya ke negeri sihir
:gerimis selalu membuatnya ingin sekali menangis  

Pinggir Kapuas, 23 juni 2017
Copyright © Alexander Mering
By Wisnu Pamungkas

Dengarkanlah hujan, kalau jiwamu adalah teratak
yang mengucurkan air, meski luka oleh duka
yang menganaksungai tanpa pantai,
merindu jejak layar perahu Sinbad.

Ciminyak, 18 Juni 2018
Copyright © Alexander Mering
by Wisnu Pamungkas

Suatu hari di bulan juni, 
Ayah menemukan seorang bidadari
yang nekad turun ke bumi,
bertemu lelaki yang rambutnya beraroma hujan

Bidadari melepas jampi-jampi, mengirim amuk,
tapi rambut lelaki tersebut tetap saja hanya  daun lindap,
samadi sunyi di ranting bulan

Ayah hanya menari ketika bidadari melepas sayapnya,
meruapkan bau harum saat direngkuhnya pelukan
lelaki yang rambutnya beraroma hujan

Ketika senja ayah juga menyaksikan rindu yang menjelma sungai,
dilayari perahu Sinbad yang tak pernah tiba di pantai

Ayah menggambar sepasang sayap untuk cinta itu lelaki,
menjampi-jampinya menjadi kunang-kunang,
mengirim cahaya kecilnya ke cakrawala sebelum hujan

16 Juni 2017

Copyright © Alexander Mering

by wisnu Pamungkas

Seorang pejabat negara, mengatakan kepada saya dan para peserta:

Saat hutan di Sumatera dan Kalimantan dilanda kebakaran dahsyat, pemerintah Indonesia membuat hujan buatan. Awan-awan di atas langit Malaysia dan Singapura diseret ke Indonesia. 

Dampaknya, kedua negara itu tidak mendapat hujan hampir dua minggu lamanya.  Sehingga dua jiran kita itu mengirim nota keberatan kepada Indonesia.

“Jangan rebut awan kami, Saudara!”


Aston TB Simatupang, 1 Juni 2017

Copyright © Alexander Mering
By Wisnu Pamungkas

Tuan Garuda, setelah 72 tahun merdeka
mengapa mereka yang kau sebut saudara
mendustai kami sedemikian luka
tak hanya sudah merampas dan merampok hutan dan tanah kami
tapi mereka juga mengincar ibu dan anak perempuan kami di kampung

udara dan sungai-sungai kami telah diracun
dan kami tak berkutik, ketika mereka datang dari seberang lautan
membawa pemuka agama dan berkapal-kapal pasukan
untuk mencela kami kafir dan menggertak, memaksa kami bertobat
seakan-akan kamilah yang berbuat dosa, kamilah pencuri
yang terkepung di kota mereka yang sejarahnya berlumuran darah

Tuan Garuda, setelah 72 tahun merdeka
sejak kau minta kami sebut mereka saudara
datang menumpang di rumah-rumah betang kami yang sederhana
kedamaian pun terengut dari kehidupan

kami yang dulu minum dari mata air yang sama,
yang berjemur di bawah matahari yang sama,
dan menghirup udara yang sama
kini menjadi tak lagi mengerti kasih sayang, apalagi cinta

di media massa, setiap hari ibu menggoreng kelamin ayah atau sebaliknya,
anak-anak menggorok leher gurunya di sekolah
mereka merapal jampi teologi mematikan, dan
para remaja kampung menjadi gila,
menuliskan cita-citanya dengan darah
membeli tiket ke surga dengan harga murah
lewat calo-calo dan para pengkotbah  

Tuan Garuda, katakan kepada kami
pada hari ini, kemana janjimu dulu yang begitu megah?

Kalibata, 10 April 2017
 

Copyright © Alexander Mering
by Wisnu Pamungkas

Kupeluk esok, agar hari ini tak pergi
surut ke belakang sebelum engkau lenyap
dalam gerimis yang membawa semua kenangan,
pada sore yang sendu-lindap
(tapi begitulah rindu yang kini menjadi piatu dalam rinai hujan dan sepotong sajak)


Makasar, 25 Maret 2017
Copyright © Alexander Mering