'Heart of Ketapang' Warrior

By    
Bang Doy
Oleh: A. Alexander Mering

Suatu pagi yang berhujan, seorang bocah kelas 3 SD bergegas melompat ke perahu motor kayu yang akan berangkat ke hulu Sungai Kepuluk. Doy, bocah kurus itu tahu-tahu sudah berada dalam perahu, berbaur bersama para pekerja logging, dan petugas logistik  perusahan kayu yang selalu hilir-mudik di sungai itu. Dia sudah tak sabar ingin segera memancing, bergabung dengan ayah serta kakeknya yang sejak seminggu lalu sudah bermalam di pondok, di pinggir sungai, di tengah-tengah rimba rawa gambut seluas 28 ribu Ha untuk mecari ikan.

Awal Desember silam dia duduk tepat di depanku,  dalam cuaca berhujan, di sebuah cafe kecil di pinggir kota Ketapang untuk sebuah wawancara. Tentu saja dia bukan bocah lagi, meski orang-orang  masih memanggilnya Doy. Padahal nama di Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya adalah Abdurahman Al Qadrie. Dia Guru SD berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS),

“Waktu itu  saya sedang liburan sekolah,  sekitar tahun 1983, ”  katanya  sambil merapikan rambut, dan brewoknya yang berantakan.  Maklumlah, bulan Desember  memang waktunya hujan dan angin laut mengamuk. Untuk datang ke Cafe ini tadi Doy harus menerabas hujan dan angin.

Kota Ketapang memang berada di atas delta antara Laut Cina Selatan dan Sungai Pawan. Dari 14 Kabupaten kota di Provinsi Kalimantan Barat, kabupaten ini adalah yang terluas, yaitu sekitar 31.240,74 km² . Selain dikenal sebagai penghasil  sarang walet, tambang, dan kayu, kabupaten yang berujuluk Tanah Kayong ini, juga dikenal sebagai kabupaten yang hutan tropisnya paling cepat habis di babat sejak 20 tahun terakhir. Baik oleh para perambah hutan, penambang maupun untuk perkebunan kelapa sawit bersekala besar.  Karena itulah sekitar 90.000 hektar kawasan hutan dalam Taman Nasional Gunung Palung  (TNGP) yang  menghubungkan Kabupaten Ketapang dengan kabupaten Sukadana adalah surga terakhir bagi sekitar 3000 lebih Orang utan di sana. Menurut Project Manager for Foundations Internatioal Animal Rescue (IAR) Indonesia, Karmele Liano Sancez,  antara 500-800 Orangutan terkepung di hutan gambut Pematang Gadung. Karena hutan yang merupakan koridor penghubung antara Pematang Gadung dengan hutan lain di sekitar TNGP sudah habis di babat.

Berdasarkan data dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Barat, Kabupaten ini paling banyak mengeluarkan izin perkebunan kelapa sawit. Hingga Juli 2013 lalu tercatat ada 76 perusahaan sawit yang beroperasi di Ketapang dengan seluas kebun 838,855,99 hektar.  Sementara Dinas Pertambangan Ketapang,  menyebutkan ada 78 perusahaan yang mengantongi izin eksplorasi  tambang dengan seluas 990.060 hektar. Yang sudah produksi 56 perusahaan  dengan seluas sekitar 196.592,8 hektar dari total luas pertambangan  1.186.661,8 hektar.

Doy menatap lurus menembus hujan, sambil menanti kopi. Dia sedang mengumpulkan beberapa penggalan kenangan masa silam yang sekan-akan ada di balik hujan itu.  Aku memesan capucino hangat. Marlin, pemilik Cafe dengan sigap meracik pesanan. Bagi Marlin, Doy bukan sekadar pelanggan biasa, tetapi juga seorang tukang cerita yang kehadirannya dinanti-nanti para pelanggan tetapnya.

Tak ada musik hari ini selain hujan. Bahkan listrik berkali-kali padam sejak sore. Di keremangan cafe, bayangan Doy mengingatkanku pada tampang George Duke, musisi Jazz legendaris yang baru wafat beberapa waktu silam. Tapi tentu saja Doy bukan Duke, meski  sama-sama brewok dan sama kriting. Bahkan Doy bukan penggemar Jazz!

Aku membiarkannya tenggelam dalam lamunan, menyulut rokok, lantas menedotnya dalam-dalam tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan. Tak lama kemudian dia melanjutkan ceritanya.

“Ayahku adalah keturunan Arab, dari garis Kesultan Kadariah Pontianak. Dia seorang guru yang hebat,  mendirikan sekolah dasar pertama di Pematang Gadung. Tapi setelah SD itu dijadikan sekolah negeri oleh pemerintah Indonesia, ayah kembali menjadi petani, mencari ikan ke sungai, menyatu lagi dalam kesehariannya di hutan Pematang Gadung, bersama kami anak-anaknya,  berburu, mecari ikan dan juga berwisata. Karena itu beliau selalu menasihati kami untuk tidak merusak hutan yang memberi kami hidup, “  kata Doy setengah bergumam.

Menurut Doy Ayahnya juga  memelihara tiga ekor anjing, walau pun mereka keluarga muslim. Anjing itu selalu menyertai  perjalanan keluarga ke ladang, ke sungai, terutama saat ke hutan untuk berburu.
Karena itulah Doy dengan hutan Pematang Gadung tak mudah dipisahkan. Dulu dia sempat bekerja sebentar pada sebuah perusahaan konstruksi,  usai menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah Negeri 1 Pontianak. Doy tak betah tinggal di kota dan memilih kembali ke kampung halamannya.  Kicauan burung, dengung serangga, pekikan unggas, teriakan Orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus), Bengkatan, (Nasalis larvatus), Kelasi (Presbytis rubycunda), Kelempiau (Hylobates muelleri) Lutung (Presbytis cristata), dan Kera ekor panjang (Pacicularis macacca) yang sering ia dengar saat berbaring di Pondok bersama ayahnya di kampung, lebih  merdu dibanding music dangdut di cafe remang-remang Kota Pontianak. Kunang-kunang yang berpedar malam-malam di pinggir hutan dalam ingatannya, lebih indah dari seribu kembang api malam tahun baru di Kota Pontianak.  Suara-suara dan kenangan itu laksana bisikan gaib yang  membujuknya untuk segera pulang.

Dia rela menjadi guru honorer  di kampungnya dengan gaji Rp 450.000 sebulan, asalkan setiap akhir pekan bisa bermain-main ke Hutan Pematang Gadung, untuk sekadar memotret, mengendus bau rawa sambil menyimak musik semesta yang tak tergantikan.  Inilah kemewahan   yang  menurut Doy tak mungkin dibeli dari supermarket mana pun di dunia.

Tak cuma ikan yang melimpah di sungai-sungai kecil di kawasan Pematang Gadung saat itu, tetapi juga berbagai jenis  flora dan fauna unik dan langka. Bahkan ada yang jumlah populasinya sudah sangat kritis.  Dari hasil kajian Ketapang Biodeversity Keeping  dan Kawan Burung Ketapang (KBK),  disana hiduplah berbagai jenis katak hingga biawak, dari buaya hingga serangga, dari kera hingga burung langka. Termasuk  Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) yang paling dicari di duna.  Pematang Gadung adalah  rumah bagi  jenis keluarga mamalia dan primata yang nyaris punah.  Secara turun temurun, warga desa sekitar termasuk Doy dan keluarganya sudah  menjaga dan menyatu  dengan hutan keramat tersebut dengan sangat erat.

Angin berkesiur kencang. Syukurlah listrik dari Perusahan Listrik Negara (PLN) kembali menyala. Doy menenggak kopinya yang sudah dingin dengan perasaan enggan. Aku memanggil Marlin lagi, dan minta tambah dua gelas kopi.  Sebab dingin mulai terasa mematuk-matuk tulang.

“Bro, kamu tahu Bangau Strom, burung dari keluarga Ciconiidae?”
Aku menggeleng, karena memang bukan burung lover, walau pun punya minat yang sama pada hutan dan memotret unggas seperti Doy.

“Burung itu ada juga di Pematang Gadung. Dulu saya pernah memelihara seekor,” kata Doy.  Suaranya segera hilang ditelan gemuruh hujan.

Belakangan dengan bantuan internet, barulah aku tahu  bahwa Bangau Storm (Ciconia Stormi) adalah burung yang nyaris punah. Di dunia, unggas berbulu hitam, putih dan merah, serta wajah berwana oranye kekuningan itu populasinya diperkirakan cuma tinggal 250 hingga 500 ekor saja. Habitatnya memang sangat terbatas di sekitar Sumatera, Kalimantan dan Brunei saja.

Tahun 2011, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) muda, Erik Sulidra, tanpa sengaja menangkap sosok burung itu dengan lensa kameranya di sekitar Pematan Gadung.  Peristiwa itu membuat Erik ikut ‘terjerumus’ dalam hoby photography seperti Doy dan teman-temannya. Kini Erik adalah salah satu photographer wildlife terbaik Ketapang .

Suatu ketika kata Erik, demi menyelamatkan seekor anak Bangau Strom dari tangan seorang pemburu,  Doy rela merogoh honornya sebagai guru yang tak seberapa. Anak burung yang kelaparan dan belum tumbuh bulu sayap itu langsung diboyong Doy ke rumahnya di Desa Tuan-tuan, Ketapang.  Mira, putri sulung Doy memberi nama burung itu Edi. Dan setelah dua tahun, Edi tumbuh sehat dan mandiri.  Karena dengan telaten Doy melatihnya, di rawa-rawa  di belakang rumah.  Tahun  2012, Edi dipulangkan ke Pematang Gadung dan awal tahun 2013,  Edi sempat nongol di kolam belakang rumah Doy, tempat dia dulu dibesarkan.

“Tapi hanya sebentar,  lalu terbang lagi,” kata Doy mengutip Mira anaknya yang sempat menyaksikan burung tersebut mampir.

Di suatu saat yang lain, Doy meminta seekor elang kepala kelabu yang dipelihara  seorang Tauke China di Pasar Ketapang, Kebetulan sekali sang tauke sudah bosan pada itu burung, sebab belakangan dia jadi repot oleh burung pemakan ikan yang rakus hingga ini.. Tentu saja Doy gembira bukan main saat sang tauke menyerahkan burung itu kepadanya.  Doy membebaskan burung itu dari sangkar dan melepaskannya  di hutan Pematang Gadung! Tentu selebrasinya dilakukan bersama para anggota Kawan Burung Ketapang (KBK).

Dimana sebenarnya hutan Pematang Gadung? Karena Doy selalu memujinya sebagai kawasan yang biodeversitya terlengkap di ketapang. Dia bahkan menyebut kawasan itu Heart of Ketapang.

Secara adminstratif  kawasan itu adalah bagian dari wilayah Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan. Letaknya hanya sekitar 30 kilometer dari Kota Ketapang.  Hampir seluruhnya  adalah lahan gambut dan rawa yang merupakan hutan sekunder.  Menurut data  yang pernah dicatat KBK, total luas kawasan adalah 28 ribu Ha. Tapi kini diperkirakan luasnya tinggal 14.000 hektar saja, termasuk hutan kerangas. Selebihnya sudah berubah menjadi padang pasir bekas pertambangan emas tanpa izin yang luasnya mencapai lebih dari 7.000 hektar, ditambah pemukiman yang berpenduduk sekitar 2.839 jiwa.

Di sanalah  Doy tumbuh.  Lahir persis empat hari menjelang natal tahun 1975 dari pasangan Yahya Abdulah dan Syamsiah. Mereka adalah keluarga petani, nelayan musiman dan juga pemburu yang harus menghidupi 10 anak. Doy adalah putra  ke 7.

Aku dapat merasakan  betapa kegelisahnya  Doy.  Aku berusaha menghiburnya, walau pun mungkin tiada artinya. Sebulan yang lalu, aku telah menyaksikan sendiri, air Sungai Kepuluk yang telah berubah menjadi lumpur, akibat tercemar pertambangan emas ilegal di perhuluan sugai. Jangankan buaya, ikan seluang (devario regina) pun sudah sulit menemukannya.

“Aku hanya melihat sedikit, bisakah Bang Doy ceritakan yang tidak kulihat?"

Dia tak segera menjawab pertanyaan. Tangannya meraih sebatang rokok lagi. Ini entah yang ke berapa batang, sejak kami duduk berbincang. Aku melirik ke asbak yang hampir penuh puntung.

“Kini luas hutan terus menyusut.Waktu saya masih kecil tempat itu adalah surga para unggas, lumbung bagi burung-burung,  dan kediaman  berbagai jenis kera dan mamalia hingga vetebrata kecil cemilan orangutan,” katanya seperti seorang sincetist. Atau dia memang sicetis?  Hanya saja dia tak menyandang gelar made in universitas mana pun. Doy dan teman-temannya telah mengidentifikasi  berbagai jenis flora dan fauna di sana, terutama jenis unggas dan tanaman. Mereka mencatatnya, memberinya nama sesuai bahasa lokal maupun nama latin (saintific).  Doy tahu persis mana hewan endemik atau unggas migran yang sekadar singgah.

Karena itu dia percaya Hutan Pematang Gadung sebagai miniatur  Kabupaten Ketapang.  Karena 95 persen jenis burung  dan mamalia yang  di Kabupaten Ketapang  ada di hutan itu. Dulu sebelum pemerintah memberi izin perkebunan sawit, sebelum para penambang emas membongkar tanah, hutan Pematang Gadung adalah tempat yang indah, penopang hidup bagi orang-orang kampung. Tempat memancing ikan, tetumbuhan, bahkan berburu hewan secara arif dan bijak. Berbeda denangan cara orang-orang sekarang yang serakah.

Ancaman pembalakan hutan sejak tahun 90-an, pertambangan, kebakaran massif  dan perkebunan sawit terus mempersempit kawasan jelajah fauna-fauna di sana Tak cuma mengancam ketersediaan pakan kehidupan alam liar , tetapi juga keberlangsungan hidup penduduk tempatan. Karena hutan memang bukan cuma sekumpulan flora dan fauna, tetapi juga semesta yang memiliki demensi ekonomi, sosial budaya bagi seluruh mahluk hidup.

Sepak terjang Doy sudah dimulai sejak menjadi guru honorer SD di desanya itu. Dia mengingatkan keluarga dan orang di desanya untuk tak tergiur bujuk rayu perusahan pertambangan dan perkebunan sawit yang tengah mengincar tanah-tanah mereka.  Dalam ke terbatasannya,  Doy  pergi ke seminar-seminar local dan maupun nasional, terutaa yang terkait konservasi  dan hutan. Setelah terpilih menjadi Kepala Desa, tahun 2007,  dia mulai agak  lelusa bergerak. Dia secara terang-terangan melawan pihak-pihak perusahan yang mengincar tanah mereka. Dia mengajak teman-temannya  membentuk  komunitas  Kawan Burung Ketapang (KBK) dan belakangan juga disebut Ketapang Biodeversity Keeping (KBK).  Mereka adalah para photographer  alam liar yang kerap keluar-masuk hutan untuk hunting foto satwa dan alam sekitar.  Tak jarang gaji Doy—yang cuma Rp.700.000   sebulan— terpakai untuk membiayai perjuangan mereka.
“Gara-gara itu pula,  dulu seorang oknum petinggi keamanan di Ketapang mengancam akan menembak kepala saya,” katanya. Sambil menjentik abu rokok.

Sang oknum menuduh Doy telah membantu sebuah stasiun TV nasional melakukan liputan tentang dampak  penambangan emas tampa izin yang tidak saja mencemari Sungai Kepuluk, juga mengancam kawasan hutan yang tersisa di Pematang Gadung.  Karena itulah dengan atau tanpa bantuan sesiapa pun, Doy tetap berusaha mempertahankan kawasan tersebut.

Karena potensinya itu, tahun 2012 lalu, United States Agency for International Development-  Indonesia Forest and Climate Support Project (USAID- IFACS) memasukan kawasan hutan Pematang Gadung ke dalam lanscape project mereka di Kalimantan, khususnya Kantor Region Ketapang. Selengkapnya tentang USAID IFACS silahkan klik link ini. Bahkan beberapa NGO lain seperti Fauna Flora International (FFI), dan Foundations Internatioal Animal Rescue (IAR) Indonesia pernah melakukan pernah melakukan aktivitas riset dan survey disana.

Hujan tak juga mau reda.  Sementara malam semakin larut.  Kopi kami sudah lama menjadi dingin. Mungkin, sedingin hati Doy yang hampir tak percaya lagi pada pemerintah Indonesia benar-benar akan berpihak kepada  rakyat dan kepada warga Pematang Gadung. Meskipun Menteri Kehutanan Republik Indonesia, konon telah menetapkan 14.000 hektar Hutan Pematang Gadung menjadi Hutan Desa, tapi hingga saat ini ia belum melihat lembar Surat Keputusan (SK) tersebut. "Artinya Pematang Gadung belum benar-benar aman dari incaran para spekulan dan pemilik modal," keluhnya.

Hari ini, Doy duduk disini, tepat di depanku, pada suatu malam berhujan, hingga kota menjadi sepi.  Dia terus mengoceh walau wawancara telah lama berakhir. Dia berkisah tentang tentang misteri hutan yang sama rumitnya dengan masa depan manusia. Tentang sebuah kelakar dan juga dongeng yang membuat manusia bisa berumur panjang atau cepat-cepat mati.

Doy menarik sebatang rokok lagi, tapi urung dinyalakan.  Mungkin dia juga mulai bosan, kami masih menanti  hujan yang seakan tak akan berhenti sampai besok.  Malam sudah larut. Kami  putuskan pulang menerabas hujan. Doy mengantarku hingga ke penginapan.

Keesokan harinya di http://www.indosiar.com  di laporkan ada 7 kabupaten di Kalimantan Barat terendam banjir. Puluhan ribu rumah, sawah, ternak musnah dan sejumlah jiwa tewas tenggelam. Aku teringat pada Bang Doy yang memilih hidup sebagai konservasionis, mengabdikan sebagian besar usia dan hidupnya untuk menjaga sepetak hutan.


--Medio Desember 2013