Kunang-kunang Kampung [Indonesian version]



Oleh: A. Alexander Mering

Purnama sudah beranjak dari pucuk nangka, menyisakan cahaya beberapa ekor kunang-kunang  yang tersesat, berputar-putar di atas kampung tempat sebuah pesta perkawinan sedang berlangsung.

Walau malam sudah larut, tapi hingar-bingar dangdut koplo diselingi lagu-lagu daerah yang ditabuh dari atas panggung pesta itu tak putus-putusnya mengundang orang-orang datang dari berbagai pelosok.

Tak cuma warga kampung setempat, tapi juga para kuli perkebunan kelapa sawit dan perambah hutan sisa belantara dari camp-camp terdekat.

Beberapa lelaki duduk bersila di bawah tenda terpal biru, di pinggir panggung. Persisnya di antara deretan warung-warung.  Satu dua di antara mereka sesekali mencuri pandang ke arah kami dengan sorot mata curiga. Mungkin mereka memang mengenal Laurensius Edi, tapi pasti tak mengenalku. Sebab memang baru sebulan ini aku bolak-balik ke kampung ini.

Edi seorang pemuda tampan, berkulit putih dengan wajah bersih seperti kebanyakan tampang orang Dayak. Jangan ditanya dia punya pacar berapa. Dia juga satu dari sedikit pemuda Kampung Loncek yang beruntung bisa duduk di bangku kuliah.

Ayahnya pensiunan guru Sekolah Dasar  Negeri  (SDN) yang harus mengidupi 8 orang anak, salah satunya adalah Edi.

Untuk biaya sekolah, Edi pernah bekerja apa saja, berjualan sosis goreng, pakaian bekas hingga menjadi perambah hutan. Kegiatan yang paling banyak dilakukan para pemuda di Loncek.

Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara (YPPN) Pontianak yang melakukan assessment tahun 2011 lalu ke Desa Teluk Bakung,  menemukan tak kurang dari 200 Orang Muda Putus Sekolah (OMPS), termasuk di Kampung Loncek.

Sebenarnya aku sudah tak tahan untuk tidak bertanya.  Maka aku colek lengan Edi yang sedang sibuk memperhatikan penari di panggung karaoke.

“Eh, orang yang bergerombol di tenda itu sedang apa?”

“Sedang main Kolok-kolok, Bang”.

Aku mengernyitkan dahi. Menyaksikan ketidafahamanku, Edi menjelaskan bahwa kolok-kolok adalah jenis permainan judi dengan tiga dadu dan enam gambar di atas kanvas seukuran kertas manila.

“Kepiting, ikan, udang, bulan, tempayan, bunga,” teriak bandar.

Sebenarnya aku risih duduk di sini. Karena beberapa mata terus saja memandang ke arahku dengan tatapan seperti menyelidik. Tapi seorang pelayan warung datang menghampiri, menawarkan bir, arak, kacang dan goreng daging babi.

“Bir saja,” kataku.  Kupikir sedikit alkohol mungkin bisa mengusir dingin  malam ini. Sementara dari atas panggung, tak jauh dari warung, 4 penari berbikini beraksi, meliuk-liuk, ‘kesurupan’ Trio Macan[1]. Begitu juga penyanyi menor yang tubuhnya mengkilap-kilap dibanjiri keringat, di bawah sinar neon, lampu panggung.

Iwak Peyek, Iwak Peyek, Iwak Peyek[2], nasi jagung. Sampe’ tue, sampai nenek, Trio Macan tetap disanjung…”.

***

“Kepiting, udang, ikan, bulan, tempayan, bunga”.
Bandar bertubuh gempal yang bersila di tengah lapak, di samping panggung itu berteriak lagi. Dia menepuk-nepuk kotak dadu, seperti magnit yang membuat orang-orang makin ramai berkerumun. Aku ikut menoleh.

“Saya kupan Boss,” seru pria bersepatu boot hijau. Dia mungkin pegawai perkebunan kelapa sawit, yang letaknya tak jauh dari kampung. Sebab tak banyak orang kampung yang punya sepatu sebagus itu.

Omon jak…”, kata yang baju merah. Ia mengambil segepok uang kertas dari tas pinggang  yang kumal dan mencampakannya ke atas kanvas. Uangnya dilipat dua.

“Ayo, siapa lagi? Pasang, pasang, pasang.…Kepiting, udang, ikan, bulan, tempayan, bunga,” kata Bandar memprovokasi lagi. Wajahnya juga mengkilap-kilap diterpa lampu neon di bawah tenda.

Kupan adalah istilah untuk taruhan yang apabila salah satu gambarnya muncul di dadu, maka si pemasang taruhan akan dibayar sejumlah pasangannya oleh bandar. Sedangkan omon, dibayar 5 kali lipat dari besar taruhan.

Di seberang Kolok-kolok, ada kelompok lain yang sedang asik bermain Tepo. Di Loncek disebut Tongkok, yaitu permainan judi Cina yang sudah lama di kenal masyarakat, khususnya di sepanjang pantai timur Kalimantan Barat.

Main Tepo juga menggunakan dadu, tapi lebih kecil dari dadu kolok-kolok yang jumlahnya tiga.  Bentuknya kubus yang di salah satu sisinya  bertuliskan huruf kanji warna merah dan putih.

“Mereka bisa membaca huruf kanji?”
Tak lah, mereka tak membaca”.
“Lalu, bagaimana mereka main?”
“O, mereka hanya perlu mengingat warna tulisan di dadu itu saja,”

Hmm, aku menatap Edi. Bagaimana pemuda ini mengetahui semua jenis permainan judi? Dia tersenyum, tahu apa yang bermain di kepalaku.

“Aku kenal judi sejak masih es-em-pe. Kolok-kolok permainan yang paling  aku gemari. Tapi sekarang sudah tidak lagi”.

“Mengapa?”

Edi tidak menjawab. Dia tertawa kecil sambil mengalihkan pandangan ke arah kerumunan. Aku ikut menoleh. Dari pinggir tenda, seorang bocah ceking dan seorang ibu masuk gelanggang. Paling-paling umurnya baru 10 tahun. Bocah itu memasang taruhan uang kertas pecahan seribu. Perempuan yang ternyata ibunya, ikut melempar uang taruhan. Matanya berbinar-binar dan bersorak gembira saat sang anak dan dirinya dibayar bandar.

Alamak! Entah siapa di masa lalu yang mengajari orang-orang Dayak ini bermain dadu?  Kemana negara Indonesia setelah lebih dari 67 berlalu, hingga ibu-ibu ini pun mengajari anaknya berjudi tanpa sedikit pun rasa bersalah dan malu.

Di lapak dadu orang-orang bertemu, di panggung karaoke orang-orang mengubar kesenangan. Para kuli sawit, perambah hutan, petani karet, bandar judi, anak-anak dan orang kampung mencari-cari cara untuk bahagia, melupakan sejenak penderitaan hidup menjadi orang kampung kecil di negara besar bernama Indonesia.

Tentu tidak semua penduduk Loncek setuju pada cara ini, banyak yang menolak dan sakit hati. Tapi mereka toh cuma orang kampung dan para petani. Hanya terpana ketika semuanya tiba-tiba saja berubah. Semua yang tadinya hanya ada di televisi, sekarang telah menjelma di kaki tangga rumah tanpa dapat dibendung adat yang mereka junjung selama ini.

Tiba-tiba kepalaku pening. Jiwaku keram dan merasa menderita. Cangkir bir kutenggak lagi. Aku sudah tak beberapa pasti. Adakah aku mabuk bir atau oleh realitas masyarakat yang tak pernah diurus serius oleh republik ini.

“Syukur-syukur masih ada program seperti PNPM Peduli[3],” ujarku menghibur diri.
Hentakan house music semakin keras, goyangan penarinya pun semakin panas.

Seingatku, bukan begini adat orang Dayak. Aku juga orang Dayak, meski dari sub etnik yang berbeda. Dayak tak ada karaouke. Mereka juga tak memiliki teknologi menanak arak. Dayak Iban, Jangkang, Mualang dan beberapa suku Dayak lain di pedalaman misalnya hanya bisa membuat tuak, minuman dari hasil fermentasi ketan dengan ragi.

Bagaimana caranya mereka mengenal Judi? Bahkan mereka tak tahu kalau orang-orang Yunani kuno gemar bermain dadu. Kemungkinan besar nenek moyang Dayak Salako memang sempat berinteraksi dengan orang-orang Cina penambang emas di Mandor dan Monterado. Yaitu kelompok Hee Soon dan Lanfang, tepatnya sekitar 1770-1777 M[4], sebelum kelompok kecil orang Dayak Salako datang ke Sungai Ambawang dan akhirnya menjadi nenek moyang orang Loncek.

Menurut Yohanes Aboy, keterisoliran kampung ini baru terbuka sekitar tahun 2010, saat perkebunan kelapa sawit milik PT. Palmdale Agro Asia Lestari masuk dan membuka jalan untuk kebun. Jalan satu-satunya waktu itu hanya melalui sungai.

Jika air sungai surut dibutuhkan tiga hari dua malam perjalanan naik sampan bermotor untuk tiba di Kampung Loncek dari Kota Pontianak, Ibu Kota Kalimantan Barat. Aboy adalah tokoh masyarakat sekaligus ketua Umat Katolik di Loncek.

Secara administratif, Loncek berada di ujung wilayah Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat dan merupakan bagian dari wilayah Desa Teluk Bakung. Berbatasan dengan Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau. 

Kata Ga’eb, pemukiman orang Salako di Loncek sudah ada sejak tahun 1910—dibuka dua orang yang bernama Nek Motek dan Timanggong—jauh sebelum Bangsa Indonesia dilahirkan. Ga’eb adalah salah satu keturunan Nek Motek paling senior yang masih hidup di Loncek. Karena itu dia heran mengapa warga desa disana tidak bisa mensertifikasi tanah. 

Suatu hari, Kepala Desa Teluk Bakung, Valentinus Agib, S.Sos, menjelaskan hal tersebut dikarenakan pemerintah Indonesia sudah menetapkan beberapa bagian wilayah desanya menjadi kawasan Hutan Produksi (HP).

House music kini bertukar dangdut koplo lagi, bercampur ruap bir yang dituang pelayan warung. Tapi tak berhasil mengusir dingin yang terasa menggit. Aku merapatkan leher jaket, karena embun sudah mulai turun dari langit.

Edi nyerocos lagi, dengan ekspresi yang sukar ditebak.  “Sekarang pesta digelar tak cukup sehari. Bahkan ada yang perayaannya sampai berminggu-minggu lamanya. Akibatnya tak hanya pekerjaan yang tertunda, uang yang diperoleh dari memeras keringat pun tak jarang ludes di lapak dadu. Mana ada lagi yang ditabung,” ujar Edi seperti menggerutu. Wajahnya mulai tampak gelisah. Aku minta pelayan menuangkan kami bir lagi.

Edi menenggak bir dingin di cawan yang berpeluh oleh temperatur malam yang turun tajam. Menurut dia pesta di kampungnya dahulu tak begitu. Selalunya dirayakan dengan adat yang ketat. Baik pada upacara perkawinan, maupun sunatan kampung atau babalak. Begitu juga acara pesta adat kematian. Tuan rumah biasanya mengundang para penari topeng, bukannya penari karaoke yang mengubar syahwat seperti jaman sekarang. Dulu semangat gotong-royong dipegang teguh, sed dan tata krama taat dijaga.

Seorang lelaki separuh mabuk mampir di warung. Dia meminjam korek api untuk menyulut rokok. Malam sudah menjelang pagi. Sebutir embun menggelinding dari tuturan atap warung lalu jatuh ke mulut cawan. Aku menenggak bir tercampur embun itu dengan perasaan rawan. Yang pasti aku belum mabuk dan masih ingin mendengarkan Edi bercerita.

“Di, Siapa yang memulai, karaoke di kampung ini?”
“Saya tak tahu pasti, tapi sejak jaman We’ Bunga. Belakangan seakan udah jadi kebiasaan setiap ada  acara pesta. Seingat saya itu terjadi sejak jalan kampung kami terbuka," kata Edi.

We’ Bunga adalah sapaan untuk Bos kelompok penari karaoke Citra Dancer yang bermarkas di Pontianak. Kelompok ini lumayan eksis di sepanjang pesisir Sungai Ambawang dan sekitarnya, termasuk di Kampung Loncek.

***
Begitulah Loncek dikenal dari luar sana. Bahkan salah seorang pastor yang bertugas memberi pelayanan di stasi Santo Kanisius Loncek bilang kepadaku dia begitu sedih dan kecewa pada realitas masyarakat Loncek.

Terbentuknya Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas (KTM PPB) awal Oktober 2011 lalu membuat aku semakin sering datang dan tinggal di Loncek. Bahkan sekali-sekala aku ikut bermalam bersama para perambah hutan tersebut sambil mendiskusikan masa depan kampung mereka. Oh ya, semua anggota KTM PPB yang lelaki adalah perambah hutan, sedangkan kaum perempuan menjadi buruh perkebunan sawit dan penyadap karet. Satu lagi, mereka semua remaja putus sekolah.

Edi dan Leonardus, adalah penggerak utama organisasi ini. Untuk membiayai kuliahnya, Edi bahkan pernah ikut merambah hutan. Sedangkan Leo adalah ketua Orang Muda Katolik (OMK) Loncek. Pada periode pertama program PNPM Peduli, Leo terpilih menjadi ketua KTM PPB. Sedangkan Edi menjadi fasilitator lokal program Ini. Dia juga mendapat pelatihan fasilitator di Jogja yang diselenggarakan oleh Kemitraan.

***
Suatu sore, pertengahan 2012 lalu Edi datang menghampiriku sambil tersenyum sumringah. Di tangannya ada sebuah buku kecil warna hijau muda, motif Dayak.

“Apa itu, Di?”
“Buku tabungan CU bang. KTM PPB sudah punya tabugan sekarang,” jawab Edi sambil menyodorkan buku tabungan tersebut.

CU adalah singkatan dari Credit Union, sebuah lembaga keuangan mikro yang popular di Kalimantan Barat. Para anggota KTM PPB rupanya menabung di CU Pancur Kasih[5], salah satu koperasi simpan pinjam terbesar di Kalimantan Barat. Kini  Pancur Kasih kata Yati Lantok, memiliki anggota lebih dari 110.358 orang dengan total asset Rp 1, 2 triliun per bulan Mei 2012.  Yati adalah Ketua Pengurus CU Pancur Kasih Pontianak. Selain CU Pancur Kasih,  ada beberapa CU besar lainnya di Kalimantan Barat,  antara lain CU Keling Kumang dan CU Lantang Tipo.

Sejak program PNPM Peduli berjalan di Kampung Loncek, Edi berhenti berjualan daging anjing, sosis dan lelong (pakaian bekas pakai) dari rumah ke rumah. Dia cukup sibuk menjadi fasilitator kami. Selain itu dia juga adalah guru honorer di sebuah SMA milik yayasan Katolik di Kecamatan Sungai Ambawang, sambil berbisnis ayam ras di kampungnya.

Dia juga tidak lagi main judi, apalagi berjoget dangdut dengan penari karaoke. Uang gaji sebagai fasilitator, menjadi guru dan juga bisnis ayam disimpannya di Credit Union (CU) Pancur Kasih.

“Eee…, bukan cuma Edi bang yang udah nabung, sejak Juni lalu saya pun dah menabung,” protes  Nani Sugiarti suatu sore ketika aku memuji sikap Edi. Kami bertiga ngobrol di bawah pohon cempedak, di halaman rumah Edi.

Nani adalah gadis manis berperawakan sederhana yang oleh teman-temannya ditunjuk menjadi sekretaris lembaga. Dialah satu-satunya anggota KTM PPB yang sempat mengecap pendidikan akademi.

Aku sering bertemu dia pagi-pagi sekali berangkat penyadap karet, membantu ibunya. Kini Nani telah menjadi asisten manager perkebunan kelapa sawit PT. Palmdale Agro Asia Lestari. Walau demikian tidak mau ketinggalan dalam tiap kegiatan kelompok taninya.

“Ya bang, Paustinus, Sarjono, Ropinus Induk, Emerensiana dan teman-teman kita rata-rata sudah menabung di CU,” sambung Edi bangga.

Diam-diam tentu saja aku merasa bangga. Tak sia-sia rasanya jungkir balik selama setahun ini keluar-masuk kampung  mengurus program PNPM Peduli. Banyak juga perubahan yang terjadi di Kampung Loncek. Tak sekadar yang menjadi out put program semata, tetapi juga out come yang tidak pernah menjadi target. Anggota organisasi tani muda ini bukan saja telah memiliki ketrampilan teknis, seperti mengokulasi karet dan menulis buku kampung, tetapi juga telah berani perlahan-lahan keluar dari hidup yang hedonis.

Sekarang mereka telah memiliki kebun entries dan puluhan ribu batang karet yang akan diokulasi menjadi bibit unggul. Baik untuk ditanam di lahannya sendiri, maupun untuk dijual kepada petani lain.

Belakangan gerakan KTM PPB ini jugamenginspirasi puluhan ibu-ibu petani di Desa Teluk Bakung. Enam puluh petani perempuan itu kemudian membentuk organisasi tani sendiri yang bernama Kelompok Tani Burung Arue (KTBA), diikuti oleh bapak-bapak petani yang juga membentuk Kelompok Tani Sabaya Mao (KTSM). Sekarang setiap minggu, secara rutin KTM PPB melatih dan mendampingi kedua kelompok baru tersebut.

***
Sore awal Januari lalu, Edi datang bersama 12 pemuda Loncek, bertamu ke rumahku di Pontianak. Aku menghidangkan kueh-muih dan mentraktir mereka dengan beberapa botol bir. Tentu saja bukan dalam rangka pesta dan hiburan karaoke kampung, tapi untuk merayakan natal dan tahun baru 2013. Karena itu dingin birnya asli dari kulkas, bukan karena diembunkan oleh penjaga warung.

Setelah bicara ngaur-ngidul sana sini, aku pun mengulangi pertanyaanku setahun yang lalu kepada Edi. Sebetulnya aku ingin mendengar kisahnya, bukan jawabannya.

“Jadi apa yang membuat dirimu berhenti main judi?” 

Para pemuda yang mendengar percakapan kami ikut menoleh. Edi tidak mentapku, tetapi dia tidak membuang wajahnya seperti setahun yang lalu.

“Meski aku belum kaya, tapi dengan keadaanku sekarang, apa faedahnya lagi aku berjudi?”

Dia benar. Dia tak lagi harus berjualan daging anjing seharga Rp 30 ribu sepiring. Dia tak harus berjual pakaian bekas dari rumah ke rumah seperti ketika aku bertemu saat melakukan assessment pertama kali di Loncek. Dia adalah mahasiswa semester akhir Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Tanjungpura Pontianak. Dia seorang pendidik, seorang fasilitator yang mulai terbang dan diundang ke sana ke mari.

Dia bercerita tentang hari-hari terakhirnya di lapak dadu. Saat dia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk bisa sekolah Edi harus meninggalkan orang tuanya di Kampung. Dia tinggal di Asrama Pelajar milik Pastoran, di Desa Korek yang dari kampungnya berjarak sehari penuh naik motor air.

Suatu malam pesta yang ditunggu-tunggu—bersama salah seorang pamannya—Edi mempertaruhkan seluruh uang tabungannya di lapak judi. Kalau menang, dia bisa membayar semua uang sekolah dan ongkos hidup setahun di asrama. Tapi apa yang kemudian terjadi? Seluruh uang hasil berjualan daging anjing ludes di gasak bandar. Rencana pulang ke asrama membawa segepok uang malah berubah menjadi penyesalan dan tangis.

“Lalu saya minta uang pada paman, tapi dia bilang juga tak punya uang”.

Aku menghela nafas panjang saat Edi selesai bercerita. Lantas memandang satu persatu para pemuda yang duduk senyap di ruang tamu. Ada yang pura-pura mengusap-usap gelas, memain-mainkan tuts hand phone, dan yang lain tergamam tak jelas, entah tengah memikirkan apa. 

Aku tak memberi komentar apa pun. Cukuplah  bagiku semua orang bisa mendengar dan membaca kisah ini kelak. Aku hanya tahu untuk membuat orang atau sebuah komunitas berubah bukanlah semudah memutar dadu. Merekalah yang harus menemukan jalannya sendiri.Tetapi untuk menemukan jalan tersebut masyarakat memerlukan informasi dan pengetahuan yang cukup, supaya mereka bisa membuat keputusan yang cerdas. Karena pengetahuan adalah cahaya, walau pun hanya seterang kunang-kunang, ia tetap akan sangat berarti bagi mereka yang sepanjang hidupnya diselubungi gelap.

Kampung Loncek, Desember, 2012

*Dipublikasikan di Buku Kisah Para Pendamping PNPM Peduli dengan Judul: Mereka yang Tidak Pernah Menyerah, Copyright © 2014, Kemitraan


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Trio_Macan
[2] Penggalan lirik lagu Trio Macan yang berjudul Iwak Peyek
[3] http://www.worldbank.org/in/results/2013/04/04/indonesia-a-nationwide-community-program-pnpm-peduli-caring-for-the-invisible
[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Lanfang
[5] http://www.cupk.org/

Share:

0 komentar