Kunanti Engkau di Sarmi

Anak-anak sedang bermain di Pantai Kelapa Satu , Sarmi. Photo by Mering

By Alexander Mering


Ada berbagai mitos beredar di luar sana tentang Papua, tapi aku tak peduli.  Karena aku sudah telalu ngebet ingin bertemu Sarmi.

Aku tak sabar untuk datang, berselancar papan atau sekadar duduk berlama-lama menikmati debur ombak, melompat ke tengah-tengah pasir yang selalu basah, memotret lokan dan silhuet barisan pohon kelapa, atau sekadar menatap cahaya senja lengkap dengan mataharinya yang memerah, memantulkan cahaya jingga, dan mudah-mudahan ada juga sepasang burung camar yang sayapnya sedang mengepak-melintas di cakrawala.

Setahun yang lalu, seorang teman pekerja sosial pernah mengirm email kepadaku.“Kutunanti kau di Sarmi,” tulisnya. Sejak saat itu aku ingin sekali bertemu Sarmi.  Meskipun teman-teman berseloroh,”memangnya apasih kelebihan Sarmi?  Namanya saja seperti gadis Jawa…?”

Bodo amat! Aku tak peduli pada celoteh mereka. Niatku sudah tak goyah. Tekadku sudah bulat. Maka aku telpon Juli Sianturi, Communication Officer USAID IFACS yang sudah setahun bertugas di Papua. Aku memohon bantuannya untuk memastikan tiket pesawat, hotel, mobil, dan bla..bla..bla….

“Tapi awas lo Om, jangan sekali-kali minum air kelapa saat tiba di sana?” celoteh teman itu lagi.

Busyet nih orang, gak bisa lihat teman senang apa!? Dia bilang kalau menenggak air kelapa saat di Papua, dijamin langsung kena penyakit malaria. Akai!

Tapi seperti yang sudah kubilang tadi, aku benar-benar sudah tak peduli. Bila perlu aku akan bawa sekantong pil kina.  Karena aku sudah terlalu lama menunda, aku hanya mau bertemu Sarmi, titik!

Maka 26 Oktober 2014  sore, dengan perasaan yang tak terlukiskan kugendong backpack berisi laptop dan kamera. Karena secara teknis, semua sesuai rencana, tiket sudah di tangan tinggal terbang, saja.

Akomodasi dan pejemputan pun sudah dipersiapkan, hmm… hampir sempurna, kecuali tentu saja masih harus transit dulu di Jakarta. Biasa…, Jakarta punya kuasa!

***
Sarmi adalah kabupaten yang terletak pinggir laut, tepatnya di pantai barat Papua, sekitar 300 km berkendaraan dari Jaya Pura, Ibukota Provinsi Papua.Nama Sarmi  merupakan singkatan dari nama suku-suku besar di sana, yakni Sobey, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa.

Keberadaan mereka telah lama menjadi perhatian antropolog Belanda, Van Kouhen Houven, yang kemudian memberikan nama Sarmi, demikian tulis Wikipedia Bahasa indonesia.

Singkatan Sarmi sebenarnya belum mencerminkan suku-suku yang ada mengingat di wilayah ini terdapat 87 bahasa yang dipergunakan sehari-hari. Sarmi dulu adalah sebuah distrik yang cantik, tak kalah dari Raja Ampat yang memang sudah termasyur ke seluruh dunia.

Kabupaten yang berpenduduk lebih dari 30.000 jiwa ini memiliki pantai dan pulau-pulau yang mengetarkan hati, terbentang sepanjang laut, meliputi area di pulau utama dan 15 kepulauan lain yang juga merupakan bagian dari lembah sungai Mambramo dan meluas ke pedalaman Pegunan Foja.

USAID-IFACS mencatat hampir semua bagian bentang alam ini tidak berkembang dan ditutupi petak-petak hutan yang sudah tumbuh lama dan masih utuh, namun konsesi pengusahaan kayu, kelapa sawit dan pertambangan telah diberikan di sebagian besar kawasan seluas 35.587 km2 ini.

“95 persen bentang alam Sarmi masih tertutup hutan. Sebagian besar adalah hutan rawa,” kata Forest Specialist USAID IFACS Kabupaten Sarmi, I Wayan Nuarsa suatu hari, saat kami bertemu di Jakarta.

Dia mengatakan, lembaga tempatnya bekerja berusaha membantu masyarakat Sarmi melindungi kawasan yang mereka anggap masih memiliki Nilai Konservasi Tinggi (NKT) melalui program  yang disebut Community Conservation & Livelihood Agreements (CCLA).

Sejak 2011 hingga sekarang tak kurang dari 17 CCLA di wilayah Bonggo dan Distrik Pantai Timur sudah dibuat atas dukungan  USAID IFACS yang bermitra dengan LSM Lokal.

USAID IFACS adalah  program dari pemerintah Amerika Serikat untuk membantu pemerintah Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca yang berasal dari degradasi dan hilangnya hutan.

Kesepakatan konservasi atau CCLA tadi direcanakan, dibuat dan  ditandatangani masyarakat bersama pemuka dan tokoh adat setempat. Jadi  tidak salah kalau kabupaten ini  benar-benar ingin mengembangkan sektor ekowisata, mengingat potensi alamnya yang masih cukup melimpah.

Wayan benar, dari beberapa literatur yang sempat kubaca, hutan Sarmi—sebagaimana hutan Papua lainnya—sangat kaya keragaman hayati dan tinggi endemisitasnya.

Saat melintasi jalan umum di hari pertama aku datang, di kiri dan kanan jalan tampak pohon kayu besi tinggi dan kokoh, sementara burung Kakak Tua Raja dan burung beo sesekali melintas di atas kepala saat kami memasuki perbatasan.

Di muara sungai dan pesisir, pohon bakau  yang menjadi ciri khas Sarmi tumbuh rapat. Wayan mencatat, hutan bakau terbesar di Sarmi adalah di delta Sungai Membramo.

“Sarmi cantik bukan?”kata Acun menyadarkan aku yang sedang mabuk oleh pesona Sarmi.

“Cantik dan kaya, sayangnya yang kaya hanya pendatang seperti kalian, hahaha…,” selorohku pada Acun.  Acun adalah driver taksi yang bertugas menjemput dan mengantarku ke Sarmi. Dia satu dari sekian banyak perantau asal Makasar yang mengadu nasib ke Papua. Para perantau seperti Acun biasanya hidup lumayan disini meski hanya menjadi driver taxi.

“Ya, asal pandai-pandailah bergaul dan membawa diri,” kata Acun.

Tanpa diminta, Acun menceritakan seluk-beluk Papua termasuk Sarmi. Mulai dari kisah yang indah hingga yang berdarah-darah dan kehidupan hedonis yang banyak menjebak orang papua. Dari isu keamanan hingga tempat esek-esek, dimana orang bebas saling tular-menularkan penyakit HIV/AID.

Karena penat aku pun terlelap. Sayup-sayup masih terdengar olehku cerita Acun tentang polisi dan OPM yang sebulan lalu tembak-menembak di jalan yang sedang kami lewati. Ah, masa bodohlah  dengan 'drama lama' itu, yang penting aku akan segera tiba di Sarmi!

***

Salah satu sudut Pantai Sarmi. Photo by Mering
Walau Yohan Rubiyantoro, mantan wartawan Kontan, di Kompasiana setahun yang lalu pernah menulis bahwa Sarmi adalah bekas daerah merah, sekali lagi aku tetap tak peduli.  Dan hanya butuh waktu kurang dari 7 jam kami sudah tiba di kabupaten bersejarah itu.

Aku menemukan pantai yang sedang sunyi, kecuali kibasan angin yang membuat rambut siapa saja pasti menjadi kusut.

Beberapa nelayan menceburkan dirinya ke ombak, gelombang yang memukul-mukul batu karang, melahirkan suara semesta yang mengingatkanku pada sejarah panjang yang  pernah ditulis para misionaris, jauh sebelum tanah Papua menjadi milik ini republik.

Julia Sianturi menyambutku gembira, di malam pertama aku tiba di Sarmi. Kami adalah rekan sejawat yang sekali-sekala bertemu di kantor pusat, di Jakarta. Julia dan staff USAID IFACS Sarmi menjamuku makan ikan bakar yang leszat malam itu. Ohya, laut Sarmi  adalah rumah berbagai jenis ikan laut, karena terumbu karangnya yang bagus-bagus.

Keesokan harinya setelah mampir di kantor dan bertemu Regional Manager (RM) USAID IFACS Sarmi, Yupen A. Ledang, aku  dan Juli langsung berkeliling kota Sarmi naik ojek.

“Nah kalau ojek di sini gampang dicari, mereka punya semacam koprasi,” terang Juli.  

Sorenya dia  memperkenalkan aku kepada Kepala Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sarmi, Melianus Aiwui, SE. MM yang tengah mempersiapkan tenda untuk pertemuan diskusi tematik  esok pagi dengan tema “Ekowisata di Wilayah Sarmi Mendukung Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim”.

Acara ini adalah gawainya Forum Multi Pihak (FMP) Sarmi bekerjasama dengan  USAID IFACS, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tentu saja Pemerintah Kabupaten Sarmi.

Melianus tampak tangkas mengatur para pegawainya. Dalam sekejab kami sudah menjadi akrab, dan dia menerangkan aneka obyek-objek pariwisata di kabupaten tersebut. Antara lain Monumen Yamagata yang  terletak di pusat Kota, Monumen ini di bangun oleh Pemerintah Provinsi Papua dan Provinsi Yamagata Jepang.

Yang kedua adalah Pantai Sarmi, di sepanjang pesisir Kota Sarmi, selain berenang dan menikmati pemandangan Laut, para wisatawan juga dapat memanfaatkan deburan ombak Pantai Sarmi untuk berselancar, demikian juga Pantai Holmafen.

Wisata sejarah di Sarmi juga termasuk  landasan pacu PD II tentara Sekutu, Batu Amrafati dan Warkumfati di Pulau Wakde, rangka pesawat Jepang di Karfasia, markas besar tentara Jepang di Amsira, makam tentara Jepang PD II di Sarmi, area perkebunan tentara Jepang di Minindawar, Tugu Yamagata di Sarmi, Batu Tere-tere, Duya, Anwe, Kesyan dan Tworut di Beneraf.

“Tapi sayang belum banyak wisatawan yang tahu dan mau datang ke sini,” celetuk Juli sambil membetulkan anak rambutnya yang acak-acakan dihajar angin laut.

Selain yang disebutkan Melianus, Sarmi juga banyak potensi wisata bahari. Antara lain Pulau Liki, Pulau Kosong, Pulau Armo, Pulau Sarmi, Pulau Sawar, Pulau Wakde, Pulau Yamna, Pulau Anus, Pulau Podena, Pulau Yarsun, Pulau Masi-Masi, gua di Tanjung Batu, Gua Kelelawar di Beneraf, air terjun di Sewan, Safrom,  Beneraf dan masih banyak lagi.

Rasanya Senja cepat sekali merayap di pantai ini. Suara serangga malam berbaur dengan debur ombak di antara bayangan pohon kelapa yang memesona hingga membuatku enggan untuk beranjak.

***

Hutan Sarmi tampak dari Kantor Bupati. Photo by Mering
Waktu memang bergerak cepat di Sarmi. Di kampung halamanku di Kalimantan Barat baru pukul 08.00 pagi, tapi di Sarmi sudah pukul 10.00 WIT.

Maka tak membuang waktu. aku pun langsung berkeliling, memotret puluhan bocah yang menghambur ke pantai untuk mandi dan bermain ombak. Sementara Mama Monika Seva sibuk menyusun  tervo,  yaitu kain tenun dari daun nipah (Nypa fruticanskhas Sarmi dan berbagai kerajinan tangan lainnya di meja yang disediakan panitia, di lokasi acara.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat memang tengah menggalakan  sector pariwisata untuk menggerakan ekonomi masyarakat. Bahkan Bupati Sarmi, Drs. Mesak Manibor. M.MT berjanji akan menggelontorkan anggaran yang cukup besar untuk menghidupkan pariwisata Sarmi.

“Makan papeda yuk,” ajak Juli.

Karena lapar aku mengikutinya menuju warung dadakan yang dibuat ibu-ibu di bibir pantai tak jauh dari tenda udangan diskusi.

Papadeda adalah makanan khas papua yang terbuat dari sagu. Aku memilih ikan bakar dan daun papaya sebagai sayur dan lauknya. Saru porsi harganya Rp 25.000.  Dari kecil, keluargaku  memang sudah terbiasa makan sagu, karena bagi beberapa sub suku Dayak di Kalimantan Barat sagu adalah makan kedua mereka.

Sayangnya pemerintah Indonesia jaman Suharto dulu melakukan politik hegemoni pangan, seakan-akan jika tidak makan nasi orang belum dianggap sejahtera, apa karena Suharto tentara ya? Hmmm.

Papua adalah mutiara, dan Sarmi adalah satu dari sekian banyak serpihannya. Tapi sayang sebentar lagi nasib Sarmi juga tak akan jauh berbeda dari Kalimantan Barat dan Sumatera. Karna Sarmi juga sedang terancam ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang bersekala besar.

Gidion Yaas, adalah tokoh masyarakat Sarmi yang paling cemas.  “Kalau hutan tiada, kemana kami mendapatkan air bersih,” protesnya di diskusi tematik yang dihadiri lebih dari 120 undangan.

Namun demikian, paling tidak Kabupaten Sarmi kini sudah memiliki dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang pembuatannya difasilitasi oleh USAID IFACS.  Menurut Juli, apabila dokumen KLHS telah diinteritegrasikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten, maka pembangunan yang seperti yang dicemaskan Gidion dan warga Sarmi lainnya bisa diatasi.

Karena KLHS tak saja berguna untuk memastikan pembangunan benar-benar memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dengan Straegi Pembangunan Rendah Emisi (SPRE), tetapi juga akan menyelamatkan kawasan-kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi.

“Caranya ya antara lain dengan pembangunan di sektor ekowisata,” kata Juli menjelang kepulanganku ke Kalimantan.

Dua hari di Sarmi aku masih merasa tak puas hati. Terutama karena aku tak sempat bertandang ke pulau-pulau indah yang menyimpan banyak kisah misteri.

Sebelum menuju  Kota Abepura, Acun dan Juli mengantarku ke Kantor DPRD dan Kantor Bupati Sarmi untuk memotret. Dari ketinggian tampak bukit dan lembah yang indah tersaput kabut pagi. Hutan dan laut Sarmi tak saja kaya biodiversity,  tetapi juga mengandung nilai budaya, serta kearifan lokal nenek moyang yang tersimpan di balik belantara kayu besi, pohon matoa dan dendani.

Sekali lagi aku membuka SMS sang teman yang ternyata sejak setahun lalu sudah pindah dari Sarmi. Dari puncak  balkon, kantor bupati Sarmi, kukirim SMS kepadanya dengan perasaan nyeri.

“Bro, Aku sedih jk Sarmi hrs  jdi sprt Kalimantan!”

*Catatan perjalanan ke Sarmi tahun 2015

Share:

0 komentar