Repertoar Air Mata dari Donggala

Grafis kondisi saat tsunami di Palu by Mering
Dalam bahteranya[1], Nuh bercerita kepada Anoa[2]

"Ketika aku berlayar melintasi senja, datanglah lidah laut yang marah, mengunyah rumah-rumah hingga remuk seperti kerupuk, dalam sekali tepuk menyapu Palu dan Donggala."

Air muka Nuh sangat keruh saat bercerita. Sementara di luar, bumi baru saja berhenti bergetar[3].
Di sudut perahu, di antara angin yang menderu, Nuh menarik nafas panjang sebelum melanjutkan cerita.

"Kusaksikan banyak tubuh-tubuh yang rubuh, hanyut dalam maut tanpa sempat melafaskan doa. Sebagian yang terluka dan hidup meraung-raung, memanggil nama Tuhan yang saat itu entah dimana."

Nuh memejamkan mata, ada bulir embun menggelinding jatuh dari sudut matanya.

"Tak ada yang sempat menghitung berapa yang telah mati, hilang atau terluka. Semua berebut menyelamatkan diri, mencari tempat tertinggi, memanjat-manjat, mencari tangga ke Surga."

Anoa tak kuasa menahan air mata, begitu pula semua mahluk di dalam perahu Nuh. Tak terkecuali kunang-kunang yang dulu pernah dilarang terbang di teluk, saat musim hujan datang untuk menumbuhkan bunga-bunga.

Kini dalam diam, Nuh mengayuh bahteranya mencari jejak Ayub. Tapi ia tak menemukan apa-apa, selain mayat-mayat dan ayat-ayat.

Di Talise[4], Nuh mendengar sayup-sayup suara
"Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil kembali, terpujilah Tuhan!"[5]


29 September 2018



[1] Dalam kitab suci agama samawi, Nabi Nuh dipercaya tak hanya membawa keluarga dan kaumnya yang beriman ke dalam bahteranya, tetapi juga dan kumpulan binatang yang ada di muka bumi.

[2] Anoa (Bubalus sp.) adalah mamalia terbesar dan endemik yang hidup di daratan Pulau Sulawesi dan Pulau Buton. Hewan ini  tergolong dalam famili bovidae yang tersebar hampir di seluruh pulau Sulawesi.

[3] Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 pada pukul 17.02.44 WIB yang mengakibatkan tsunami di beberapa wilayah Sulawesi, terutama Sulawesi Tengah.

[4] Pantai yang membentang dari Kota Palu hingga Kabupaten Donggala dan ikut tersapu tsunami 28 September 2018 lalu.  Pantai ini juga merupakan salah satu tempat wisata utama di Kota Palu.

[5] Adaptasi dari salah satu ucapan Nabi Ayub dalam versi bible .

Share:

0 komentar

Thank you