Makan Malam Ayah

By    
by Wisnu Pamungkas

Ayah baru saja menyelesaikan makan malam
Masih tersisa seperempat bulan di meja makan
Ketika ibu menghidangkan secangkir air hujan
Dan membujuk sore menemani ayah membaca

Syukurlah Ayah dan Ibu saling mengerti, setidaknya utuk hari ini,
sebelum besok mereka saling membacok

Ibu pura-pura lupa menyiapkan sendok
Ketika ayah melahap kerat bulan berikutnya

Sedangan ibu terlalu malu untuk meminta jatah
diam-diam dia menyiapkan pisau, membayangkan kelamin ayah
Berusaha menahan hasrat paling purba sebelum berangkat gerilia

Ibu menempa garpu menjadi peluru,
Merajut selendang jadi kelewang
Setiap malam ibu mengokang ranjang ayah
Mengaduk Mesiu menjadi susu
Anak-anak lahir dari bibir dan botol bir
Tapi Ibu tetap enggan meminta jatah
Membiarkan sisa bulan menggelinding ke dinding
Sampai biasnya terpuruk ke tempat sampah

Tapi itulah awal mulanya Ayah selalu menggebu-gebu
Menyesah ibu dengan lagu tanah airku,
Membaca teks proklamasi di tapal batas rumah
Dan inilah awalnya Ibu selalu malu-malu
Setiap kali dia teringat belum menunaikan sumpah
Ibu lantas membeli kondom untuk merakit bom
anak-anak mereka sibuk mengunyah bangku sekolah
Ayah pula merasa gagal jadi pramuka,
Ketika ibu sibuk ingin menjadi tentara

Noyan, 2 Desember 2011