Dum Spiro Spero di Tanah Loncek

Cover Buku
Oleh: Alexander Mering

Suatu hari di bulan Desember 2012 silam, Friederike Nehrkorn,  seorang wartawati dari Jerman, datang menemui saya[1]. Dia mengatakan perlu bahan untuk menulis paper tentang dampak masifnya pembangunan perkebunan kelapa sawit terhadap kehidupan masyarakat adat di Kalimantan. 

Saya pun langsung memboyongnya ke Loncek untuk menyaksikan realitas yang sedang dicarinya. Dimana sejak pemerintah memberikan izin pengelolaan hutan tahun 80-90-an, sebagian besar kawasan hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat Dayak di Kalimantan telah berubah.  Tak terkecuali di Kampung Loncek, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.   

Tak cuma hutan, sungai, dan bukit yang rusak, warga Dayak Salako di Kampung Loncek pun sudah terpapar berbagai patologi sosial.  Sebab sebagian besar hutan tempat mereka hidup—bahkan sebelum Indonesia difikirkan—sudah disulap menjadi perkebunan kelapa sawit bersekala besar.[2]

Dari hasil penelitian yang dipublikasikan Scientific Reports baru-baru ini, diketahui tak kurang dari 18,7 juta hektare hutan telah digunduli antara tahun 1973 hingga 2015 di Kalimantan. Dan perluasan perkebunan hutan industri sekitar 9,1 juta hektar, dengan rincian 11-13 persennya adalah dijadikan perkebunan sawit[3]

Sang wartawati tak hanya mewawancari para anak muda dan warga Loncek yang tengah berusaha bertahan di sisa-sisa kehancuran sumber daya dan budaya mereka secara masif, dia bahkan ikut makan durian dan menanam pohon karet.   

Pada tahun yang sama, Paulus Nokus—ketika itu dia adalah seorang mahasiswa S2—juga datang menemui saya. Katanya dia ingin membuat penelitian tentang gerakan sosial para anak muda di Kampung Loncek, dan melihatnya dari perspektif akademik.

Tentu saja saya sangat gembira sebab merasa mendapat dukungan secara akademik saat melaksanakan Program PNPM Peduli[4] di Kampung Loncek.  Nokus berjanji, hasil penelitiannya akan terbitkan menjadi buku. Namun karena berbagai kesibukan, buku dimaksud tak juga kunjung di-publish.

Nah, tiba-tiba di awal Juli 2018 lalu, Nokus datang lagi ketika saya sendiri sudah nyaris lupa. Dia mentraktir saya dan menyampaikan cita-cita lamanya yang belum kesampaian, yaitu menerbitkan buku tersebut.  

Keseriusan Nokus membuat perasaan saya menjadi rawan bercampur rindu. Rindu  karena teringat saat-saat bersama para anak muda Loncek berdiskusi sambil menanti buah durian jatuh dari pohonnya, rindu mendengarkan kecipak ikan disungai, menanam pohon karet sambil ngaur-ngidul, ngomong nonoh-nonoh[5].

Tiba-tiba saja saya merasa teramat kangen pada nyala api dalam mata anak-anak muda itu, yang sadar sedang berada di ambang kekalahan, tetapi tetap saja kekeh  tak mau menyerah. Mereka berusaha melawan dengan cara yang cukup kreatif.  Yaitu menanami kebun mereka dengan pohon karet  yang telah diberi nama.  Kemudian mendokumentasikan budaya, menuliskan sejarah kampung, dan gerakan mereka sendiri dalam bentuk buku kampung. Prinsipnya Dum spiro spero[6], agik mansengat agik malawan[7]. Bahkan saat pertama kali saya datang ke kampung itu dulu, mereka sedang berencana melakukan demonstrasi dengan cara memagar jalan perusahaan sawit.

“Kalau pun kelak kampung kita ini habis berganti sawit, setidaknya sejarahnya sudah tertulis. Dan orang-orang akan tahu bahwa di sini pernah ada anak muda yang melakukan perlawanan meski belum tentu kami menang,” ujar Edi Nawang, salah satu inisiator gerakan anak muda yang menamakan dirinya Kelompok Tani Muda Palambon Pucuk Baguas (KTM PPB).  Organisasi inilah yang menjadi cikal-bakal gerakan basis mereka, melakukan kerja-kerja kreatif. Mulai dari berkebun hingga gerakan jurnalisme kampung melalui program PNPM Peduli yang dilaksanakan oleh Yayasan Pemberdayaan PeFor Nusantara (YPPN) Pontianak bekerjasama dengan Kemitraan (Partnership for Governance Reform), Jakarta.

Dua tahun saya tinggal disana, menemani mereka, mengajar dan juga belajar berbagai hal yang ingin mereka ketahui. Mulai dari pengorganisasian, pertanian organik, budidaya karet unggul serta menulis sejarah, budaya dan tempat-tempat keramat yang masih ada dalam memori kolektif mereka selaku generasi muda Dayak. Saya katakan pada mereka: “Jika hari ini kita kehilangan rumah kita –yaitu hutan dan segala isinya- maka semakin kita kehilangan diri kita sendiri.”[8]

Maka ketika Nokus menyodorkan kembali draf buku ini untuk dibuatkan kata pengantarnya, saya seperti mengalami dejavu.  Sementara dalam rentang waktu 6 tahun itu, Loncek dan masyarakatnya tentu saja sudah mengalami banyak perubahan. Saya sempat berfikir untuk meminta penulis meng-update lagi penelitiannya sebelum mencetaknya menjadi buku. Sebab bukan cuma saya, pembaca pun pasti ingin tahu bagaimana kondisi sosial masyarakat di Kampung Loncek era sekarang dan apa pula yang terjadi kepada para anak muda yang 6 tahun lalu seharusnya adalah para agen perubahan.

Karena, sebagaimana keadaan terkini kehidupan masyarakat Dayak lain di pedalaman Kalimantan Barat, tentu tak akan mudah untuk warga Loncek bertahan di sepetak kecil wilayah sisa perluasan perkebunan sawit oleh pemodal yang izinnya tentu saja berasal dari pemerintah.  Karena itu saya merasa rawan ketika diminta menulis kata pengantar buku ini.

Alsan berikutnya adalah karena sudah banyak peristiwa dan informasi tentang Loncek yang terlewatkan oleh saya setelah sekian lama tidak tinggal di Kalimantan Barat. Tapi saya juga tetap masih yakin—walau pun mungkin sudah tak lagi se-trengginas dulu—mereka pasti sangat marah ketika mengetahui tradisi mereka ditunding oleh  Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan bencana kabut asap tahun 2018 ini di Kalimantan Barat.[9]  

Bukan sekadar mengubar emosi, tetapi karena dulu mereka adalah kelompok anak muda yang cukup kritis.  Tahun 2015 mereka bahkan pernah menggerakan warga kampung melakukan protes. Kasus itu terkait bembayaran lahan masyarakat Loncek oleh perusahaan sawit, yaitu PT Kusuma Alam Sari yang juga melibatkan aparatur desa dan Kepala Dusun[10] .

Ada banyak pengalaman yang saya catat dan tak terlupakan selama saya bekerja di Loncek, Beberapa telah saya tulis berupa sajak, dan dua narasi dalam buku Kisah Para Pendamping PNPM Peduli yang berjudul: Mereka yang Tak Pernah Menyerah.[11] Selebihnya tentu dalam bentuk laporan proyek ke YPPN dan Kemitraan.  Untuk dapat menangkap atmosfir perubahan yang lebih baik dalam buku ini, ada baiknya anda juga membaca kedua tulisan yang saya sebutkan di atas, yang saya buat pada konteks dan kurun  waktu buku ini ditulis.

Artikel terkait:  

Perasaan rawan saya kian menjadi-jadi, manakala banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala, saat saya hendak menutup pengantar buku ini. Salah satunya adalah, “apakah gunanya sebuah perubahaan sosial, jika tak pernah sampai pada klimaks?” Tak ubahnya seperti buah nangka yang jatuh ke tanah sebelum masak. Karena itu, di buku ini saya menyebutnya jejak perubahan saja. Sebab perubahannya ketika itu sedang berproses tapi belum sepenuhnya sukses.

Tapi siapakah yang bertanggung jawab terhadap setiap perubahaan? Apakah virus Auguste Comte[12] si filsuf perancis itu yang terkenal pemarah? Siapakah yang benar-benar bisa mengendalikan perubahan? Sebab dalam realitasnya, metabolisme sosial selalu lebih rakus dari apa yang bisa kita bayangkan, dan ia akan memamah apa saja pada setiap peristiwa perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu waspadalah saat Anda membaca!

Jakarta, September 2018



[1] Selengkapnya silahkan baca Das schmutzige Geschäft mit dem sauberen Öl –Palmölplantagen in Kalimantan (https://alexandermering.blogspot.com/2018/05/alexander-mering-die-stimme-der-dayak.html)

[2] Pengantar buku Loncek Baguas, Pontianak, Mata Enggang Publishing, 2012

[3] Mempelajari penyebab deforestasi di Kalimantan Analisis citra satelit selama empat dekade (https://forestsnews.cifor.org/44242/mempelajari-penyebab-deforestasi-di-kalimantan?fnl=id)

[4] Fase pertama program ini difasilitasi oleh PNPM Support Facility (PSF) – World Bank. Pada Maret 2014, The Asia Foundation ditetapkan sebagai mitra pengelola Program Peduli Fase II, dengan dana dari Pemerintah Australia. Di era presiden Jokowidodo program ini berubah nama menjadi Program Peduli (www.programpeduli.org)

[5] Artinya tak senonoh (bahasa prokem ala anak muda Loncek yang mereka gunakan saat bercanda antar sesama anggota KTM PPB.

[6] Dari bahasa latin yang artinya selama saya masih bernapas, saya tetap berharap.

[7] Dari bahasa Dayak Salako yang berarti selagi nafas masih ada tetap akan melakukan perlawanan.

[8] Kalimat saya ini kemudian dikutip oleh Friederike Nehrkorn  dalam papernya Das schmutzige Geschäft mit dem sauberen Öl –Palmölplantagen in Kalimantan

[9] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180824085127-20-324529/tradisi-gawai-serentak-malah-picu-kebakaran-hutan-di-kalbar

[10] https://kalbar.antaranews.com/berita/333756/masyarakat-loncek-minta-camat-fasilitasi-masalah-lahan

[11] Halaman 1 & halaman 51 dengan Judul Loncek Baguas dan Kunang-kunang Kampung, Jakarta, 2014, Kemitraan

[12] Nama lengkapnya Isidore Marie Auguste François Xavier Comte, yang dianggap sebagai dedengkotnya ilmu Sosilogi dan filsafat aliran positivisme.

Share:

0 komentar

Thank you