Aku Ingin Menyusun Langit Itu Kembali

By    
by Wisnu Pamungkas

Seandainya mungkin, aku akan tuntun kamu pada jarak
yang terpendek, kita akan peras semua pengertian
pada langit, pemahaman dan kecintaan kita ke pada
sinar bulan atau bintang yang jatuh ke sebelah bukit.
Akan kulihat apakah ada rasa cinta yang lebih dari itu,
yang menguntitmu sampai ke rumah sakit itu sampai ke
botol-botol obat tidur atau aspirin itu? Barangkali saja
rindu memang sudah tak berguna. Kebenaran hanya
semboyan dan kita takut membayangkan suatu hari
kelak ia benar-benar datang bagai iklan-iklan tv itu
yang selalu membuat kita terperangkap. Kita selalu
saja merasa butuh di kejar-kejar, dinobatkan menjadi
sesuatu, ingin dikenang banyak orang dipakai seperti
sabun, seperti dagangan yang paling laku. Untuk apa
semuanya itu, semua keping-keping yang tak berketentuan,
lahir mati lalu membelah lagi secara absurd, naif dengan
nafsu menelan, dengan naluri germo. Ya untuk apa?
Barangkali kita sebenarnya tidak butuh apa-apa kecuali
menyusun langit itu kembali, memberinya sekadar warna,
menjadi langit yang sesungguhnya.
berbicara kembali kepada burung-burung, kepada
pucuk-pucuk pohon tanpa pengeras suara

Baning, 11 November 1997
Post a Comment